Geser Kebawah
Ekonomi Makro

Suku Bunga The Fed Tertahan: Kejutan di Akhir Tahun?

82
×

Suku Bunga The Fed Tertahan: Kejutan di Akhir Tahun?

Sebarkan artikel ini
Suku Bunga The Fed Tertahan Kejutan di Akhir Tahun
Suku bunga The Fed diprediksi tetap stabil hingga September akibat risiko inflasi perang. Waspadai dampak lonjakan harga minyak global. Baca selengkapnya!

Dampak Eskalasi Timur Tengah Terhadap Kebijakan Moneter AS

JAKARTA, BursaNusantara.com– Pelaku pasar modal harus menghadapi kenyataan pahit bahwa harapan penurunan biaya pinjaman global dalam waktu dekat telah pupus akibat eskalasi militer yang tak kunjung mereda di Timur Tengah.

Ketidakpastian geopolitik ini tidak hanya memicu lonjakan harga komoditas energi, tetapi juga memaksa bank sentral Amerika Serikat untuk mempertahankan posisi restriktif guna meredam tekanan inflasi yang membandel.

Berdasarkan jajak pendapat Reuters terbaru, Federal Reserve (The Fed) diperkirakan akan menahan suku bunga tetap stabil setidaknya hingga September 2026.

Meskipun para ekonom masih berekspektasi ada satu kali penurunan tahun ini, kekhawatiran inflasi yang meningkat membuat ruang bagi pelonggaran moneter menjadi sangat sempit.

Pasar keuangan bahkan mulai menunjukkan pergeseran ekstrem dengan menghapus ekspektasi penurunan bunga dan menambahkan 30 persen kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Perang antara AS-Israel melawan Iran yang memasuki minggu keempat telah mendorong harga minyak mentah melonjak hingga lebih dari 40 persen.

Seberapa Besar Ancaman Inflasi Energi Terhadap Target The Fed?

Sejumlah pejabat The Fed memberi sinyal bahwa risiko inflasi tinggi tetap menjadi prioritas utama setelah mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50–3,75 persen pekan lalu.

Inflasi tercatat sudah berada satu poin persentase di atas target 2 persen sebelum perang dimulai, sementara imbal hasil obligasi AS tenor 2 tahun naik 55 basis poin.

Data menunjukkan 61 dari 82 ekonom yang disurvei Reuters periode 20–25 Maret memprediksi suku bunga tidak akan berubah pada kuartal mendatang.

Angka ini bergeser drastis dari survei dua minggu lalu yang sebelumnya memperkirakan penurunan bunga akan terjadi pada akhir Juni.

Lebih dari dua pertiga responden kini meyakini bahwa tidak akan ada pemangkasan suku bunga setidaknya hingga memasuki bulan September mendatang.

Akankah Tekanan Politik Trump Mengubah Arah Jerome Powell?

Ekonom senior AS di Barclays, Jonathan Millar, mengungkapkan bahwa diperlukan waktu lebih lama bagi bank sentral untuk yakin inflasi kembali ke jalur target 2 persen.

Kondisi ini semakin kompleks dengan adanya dinamika politik di Washington, di mana Presiden Donald Trump berulang kali mengkritik kepemimpinan Jerome Powell.

Trump yang telah mencalonkan Kevin Warsh sebagai calon ketua The Fed berikutnya, mendesak agar penurunan suku bunga dilakukan lebih cepat demi mendukung ekonomi.

Namun, fokus The Fed saat ini tetap terkunci pada dampak lanjutan (spillover) dari lonjakan harga energi yang sedang mengguncang pasar global.

Pelaku pasar kini bersiap menghadapi periode suku bunga tinggi yang lebih lama (higher for longer) sambil terus memantau stabilitas aliran energi dari kawasan Teluk.

Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara

Tinggalkan Balasan