Geser Kebawah
KomoditasPasar

Harga Minyak Dunia Melonjak: Trump Tolak Proposal Damai Iran

35
×

Harga Minyak Dunia Melonjak: Trump Tolak Proposal Damai Iran

Sebarkan artikel ini
Harga Minyak Dunia Melonjak Trump Tolak Proposal Damai Iran
Harga Minyak Dunia Brent tembus USD105 usai Trump tolak tawaran Iran. Prospek Selat Hormuz makin buram. Pantau risiko eskalasi energi selengkapnya di sini!

Kebuntuan Diplomasi di Tengah Kelumpuhan Jalur Selat Hormuz

JAKARTA, BursaNusantara.com – Harapan investor akan meredanya krisis energi global mendadak pupus setelah negosiasi tingkat tinggi antara Washington dan Teheran menemui jalan buntu.

Harga minyak mentah dunia mencatatkan lonjakan signifikan pada pembukaan pekan perdagangan ini.

Kenaikan ini dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang secara resmi menolak respons Iran atas proposal perdamaian Timur Tengah.

Berdasarkan laporan Bloomberg pada Senin (11/5/2026), harga minyak mentah Brent melesat hingga 4,2 persen.

Lonjakan tersebut membawa harga penutupan Brent ke level USD105,54 per barel.

Secara bersamaan, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga merangkak naik melampaui angka USD99 per barel.

Apakah Kegagalan Diplomasi Trump Memicu Shock Pasokan Permanen?

Pernyataan Trump melalui unggahan di media sosial Truth Social menegaskan bahwa tawaran dari Teheran sama sekali tidak dapat diterima.

Presiden AS tersebut menyatakan ketidaksukaannya terhadap poin-poin yang diajukan oleh perwakilan Iran.

Penolakan keras ini secara langsung membuat prospek pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi semakin tidak pasti.

Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz diketahui telah lumpuh total sejak pecahnya konflik pada akhir Februari lalu.

Terhambatnya jalur vital tersebut secara sistemik memangkas ketersediaan pasokan minyak mentah dan gas alam secara global.

Bagi investor ritel, kebuntuan ini menandakan biaya logistik dan inflasi energi akan tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Gangguan pada pasokan bahan bakar global berpotensi memberikan tekanan besar pada margin keuntungan emiten sektor manufaktur dan transportasi.

Optimisme Memudar, Peluang Eskalasi Harga Terbuka Lebar?

Kepala Strategi Komoditas ING Group NV, Warren Patterson, menilai bahwa hilangnya optimisme atas kesepakatan damai menjadi motor utama kenaikan harga.

Pasar kini mulai memfokuskan kembali perhatian pada potensi eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan tersebut.

Sentimen pasar diperkirakan akan tetap sensitif terhadap setiap pergerakan diplomatik yang gagal membuahkan hasil konkret.

Patterson melihat adanya peluang kenaikan harga minyak lebih lanjut selama ketidakpastian jalur distribusi energi belum teratasi.

Kondisi ini memaksa para pelaku pasar untuk kembali memperhitungkan premi risiko dalam valuasi aset komoditas.

Kekhawatiran akan gangguan pasokan jangka panjang diprediksi akan terus menjaga harga minyak pada level yang tinggi.

Stabilitas ekonomi global kini bergantung pada seberapa cepat kedua belah pihak dapat menemukan titik temu diplomatik baru.

Tanpa adanya kesepakatan, gangguan pada Selat Hormuz akan terus menjadi beban berat bagi pertumbuhan ekonomi lintas negara.

Investor diharapkan tetap waspada terhadap volatilitas ekstrem pada pasar komoditas sepanjang pekan perdagangan ini.

Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Memuat Grafik...

Tinggalkan Balasan