Geser Kebawah
BisnisEnergiHeadline

Harga Minyak Brent Anjlok USD14: Citigroup Ungkap Pemicunya

33
×

Harga Minyak Brent Anjlok USD14: Citigroup Ungkap Pemicunya

Sebarkan artikel ini
Harga Minyak Brent Anjlok USD14 Citigroup Ungkap Pemicunya
Harga Minyak Brent turun tajam ke level USD100 meski krisis Hormuz membara. Citi prediksi tren melandai hingga akhir 2026. Cek proyeksi kuartalannya di sini!

Dinamika Pasokan Global di Balik Koreksi Tajam Komoditas Energi

JAKARTA, BursaNusantara.com – Disrupsi berkelanjutan di jalur strategis Selat Hormuz secara mengejutkan gagal mempertahankan reli harga minyak dunia di tengah membanjirnya pasokan tak terduga.

Berdasarkan laporan terbaru Citigroup, kejatuhan harga minyak dipicu oleh tingginya tingkat persediaan dan pertumbuhan permintaan yang melemah secara global.

Ekspektasi pasar terhadap potensi penyelesaian konflik antara Amerika Serikat dan Iran turut meredam dampak guncangan pasokan.

Minyak mentah Brent sempat melonjak hingga menyentuh kisaran USD125 hingga USD126 per barel dalam beberapa hari terakhir.

Harga tersebut kemudian terkoreksi kembali ke rentang USD100 sampai USD114 per barel.

Penurunan harga sekitar USD14 selama sepekan terakhir mencerminkan keberhasilan pelepasan cadangan minyak strategis.

Bank tersebut menunjuk tingkat konsumsi minyak di negara-negara berkembang yang terpantau mulai melemah.

Manuver Impor China: Stabilisator Tak Terduga di Pasar Energi

Penurunan tajam volume impor minyak mentah oleh China menjadi faktor kunci yang mengurangi tekanan pada pasokan global secara masif.

Data Citigroup memperkirakan impor China merosot ke angka 2,4 juta barel per hari pada periode April dan Mei 2026.

Realisasi impor tersebut turun sangat dalam dibandingkan rata-rata tahun 2025 yang mencapai 11,6 juta barel per hari.

Pemerintah China berhasil mengatasi penurunan impor tersebut melalui strategi pengurangan penimbunan (stockpile) domestik.

Otoritas Beijing juga mengambil kebijakan untuk mengurangi volume ekspor produk minyak olahan ke pasar internasional.

Bagi investor, langkah China ini berfungsi sebagai “peredam kejut” yang mencegah harga minyak melonjak tak terkendali saat jalur distribusi utama dunia terganggu.

Efektivitas penyerapan cadangan internal China terbukti mampu mengompensasi defisit pasokan yang biasanya dipicu oleh ketegangan militer di Timur Tengah.

Peta Jalan Harga Brent: Bullish Jangka Pendek, Bearish Akhir Tahun?

Citigroup tetap mempertahankan pandangan bullish untuk jangka pendek dengan proyeksi harga Brent di level USD120 per barel pada tiga bulan ke depan.

Rata-rata harga Brent diprediksi akan bertengger di angka USD110 per barel sepanjang kuartal kedua tahun ini.

Proyeksi bank investasi tersebut menunjukkan tren pelandaian harga menuju level USD95 per barel pada kuartal ketiga.

Tren penurunan diperkirakan berlanjut hingga kuartal keempat dengan target harga rata-rata mencapai USD80 per barel.

Pasar saat ini dinilai masih meremehkan risiko gangguan Selat Hormuz yang bersifat berkepanjangan jika negosiasi diplomatis menemui jalan buntu.

Analisis ini mengindikasikan bahwa volatilitas harga akan sangat bergantung pada kecepatan proses rekonsiliasi antara Washington dan Teheran.

Meskipun fundamental permintaan melemah, status Selat Hormuz sebagai urat nadi logistik tetap menjadi variabel risiko utama yang dapat membalikkan arah harga secara mendadak.

Fluktuasi harga dalam rentang USD14 membuktikan bahwa sentimen psikologis pedagang mulai bergeser dari kekhawatiran kelangkaan menuju evaluasi daya beli global.

Investor diwajibkan mewaspadai titik jenuh beli pada level USD120 seiring dengan proyeksi normalisasi harga di akhir tahun 2026.

Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Memuat Grafik...

Tinggalkan Balasan