Genderang Perang Dagang Ditabuh Kembali
JAKARTA, BursaNusantara.com – Indeks dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencuri perhatian pasar global. Setelah Presiden AS Donald Trump menghidupkan kembali ancaman tarif impor, indeks dolar AS melonjak tajam.
Pada perdagangan Selasa di pasar Asia, indeks dolar AS dibuka menguat 0,35% dan terus meningkat hingga menyentuh 107,88, atau naik 0,51% dibandingkan hari sebelumnya.
Kenaikan ini menggarisbawahi kekuatan the greenback, julukan dolar AS, terhadap enam mata uang utama dunia seperti dolar Kanada (CAD), franc Swiss (CHF), yen Jepang (JPY), euro (EUR), poundsterling (GBP), dan krona Swedia (SEK).
Tak hanya itu, mata uang pasar berkembang juga mengalami tekanan, memperlihatkan dominasi dolar di tengah ketidakpastian global yang semakin meningkat.
Ancaman Tarif Baru Picu Gejolak
Presiden Trump kembali mengemukakan agenda proteksionisnya dengan usulan tarif universal 2,5% yang mencakup produk strategis seperti baja, tembaga, dan chip semikonduktor.
Bahkan, Financial Times melaporkan bahwa Menteri Keuangan AS Scott Bessent mendukung penerapan tarif bertahap ini, yang bisa meningkat hingga 20% di masa depan. Langkah ini jelas memicu kekhawatiran pasar dan mengguncang stabilitas ekonomi global.
“Bessent bicara tentang tarif universal secara menyeluruh dan meskipun bertahap, tarif itu bisa naik hingga 20% dan itu adalah masalah besar,” ujar Rodrigo Catril, Strategist di National Australia Bank Ltd. di Sydney.
Menurut Catril, kebijakan proteksionisme ini dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global sekaligus memperkuat dolar AS sebagai aset safe haven.
Efek Dolar Kuat ke Pasar Global
Fenomena strong dollar telah menekan mata uang Asia. Yen Jepang memimpin pelemahan, disusul baht Thailand (-0,61%), dolar Singapura (-0,53%), yuan offshore (-0,40%), ringgit Malaysia (-0,28%), dan peso Filipina (-0,16%). Namun, rupiah sedikit beruntung karena pasar domestik libur memperingati Imlek.
Kendati demikian, kontrak Non Deliverable Forward (NDF) rupiah di pasar offshore melemah 0,13% ke level Rp16.226/US$, mengindikasikan tekanan akan tetap ada ketika pasar kembali dibuka.
Penguatan dolar AS juga berimbas pada pasar obligasi. Yield Treasury AS di semua tenor mencatat penurunan signifikan. Yield Treasury 10 tahun (UST-10Y) turun 6,9 basis poin ke level 4,553%, sementara tenor 2 tahun (UST-2Y) turun 5,4 basis poin menjadi 4,212%. Penurunan ini mengindikasikan lonjakan permintaan terhadap aset-aset aman.
Keputusan Politik dan Ekonomi Trump
Dalam perjalanan dengan Air Force One, Trump secara tegas menyatakan keinginannya untuk mengenakan tarif impor lebih besar dari 2,5%. Kebijakan ini disebut sebagai bagian dari agenda besar proteksionisme yang berpotensi mengguncang perdagangan global.
Dalam sidang konfirmasi di Senat, Scott Bessent menyampaikan dukungannya terhadap kebijakan ini, meskipun diakui ada tantangan besar dalam implementasinya.
“Pendekatan menyeluruh pemerintah menggabungkan deregulasi, reformasi pajak, dan kebijakan perdagangan yang kuat akan menciptakan zaman kegemilangan ekonomi,” ujar Bessent dalam sidangnya di depan Komite Keuangan Senat AS.
Namun, para analis menilai rencana ini bisa memperburuk defisit fiskal yang telah berada di atas 6% dari PDB, bahkan tanpa krisis atau resesi.
Peran Safe Haven dan Ketakutan Pasar
Pasar saham AS menghadapi tekanan setelah kejatuhan nilai pasar Nvidia yang disebabkan oleh munculnya pesaing baru, DeepSeek, sebuah AI buatan Tiongkok. Dalam sehari, nilai pasar Nvidia anjlok hingga US$589 miliar.
Ketakutan investor mendorong lonjakan permintaan dolar AS dan Treasury sebagai aset safe haven utama. Indeks Bloomberg yang mengukur kekuatan dolar AS naik 0,4% pagi ini, menunjukkan dominasi dolar di tengah ketidakpastian.
Apa Dampaknya untuk Indonesia?
Meski pasar Indonesia libur, dampak dari penguatan dolar AS ini tetap perlu diwaspadai. Dengan kontrak NDF rupiah yang melemah, tekanan pada rupiah kemungkinan besar akan terjadi saat pasar kembali buka. Hal ini dapat memengaruhi biaya impor dan stabilitas makroekonomi domestik.
Pemerintah dan pelaku pasar diharapkan dapat mengantisipasi dampak lanjutan dari kebijakan proteksionisme AS yang berpotensi memicu Perang Dagang jilid kedua.
Kenaikan indeks dolar AS menandakan kembalinya fenomena strong dollar, didorong oleh kebijakan proteksionis Trump yang kontroversial.
Langkah ini membawa ketidakpastian baru di pasar global, memengaruhi nilai mata uang, saham, hingga obligasi. Dampak kebijakan ini akan terasa luas, termasuk di Indonesia, yang harus bersiap menghadapi dinamika pasar yang lebih kompleks.












