Geser Kebawah
Aksi KorporasiHeadlinePasar

ADMR Tebar Dividen Rp1,9 T, Genjot Smelter Aluminium

125
×

ADMR Tebar Dividen Rp1,9 T, Genjot Smelter Aluminium

Sebarkan artikel ini
ADMR Bagi Dividen Rp1,9 T, Fokus Bisnis Meluas ke Aluminium
Alamtri Minerals (ADMR) bagikan dividen Rp1,9 triliun dan siapkan ekspansi besar proyek smelter aluminium senilai US$2 miliar di Kalimantan.

Dividen Jumbo Dibayarkan, Smelter Aluminium Jadi Prioritas

JAKARTA, BursaNusantara.com – Emiten tambang PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (IDX:ADMR), yang kini resmi bertransformasi menjadi PT Alamtri Minerals Indonesia, memulai tahun ini dengan keputusan strategis dalam RUPST pada Senin (2/6/2025): membagikan dividen sebesar US$120 juta atau sekitar Rp1,9 triliun.

Dividen tersebut setara 27,48% dari laba bersih tahun buku 2024. Setiap saham memperoleh dividen Rp48, menghasilkan yield sebesar 4,6% jika mengacu pada harga penutupan Rp1.050 per saham.

Sponsor
Iklan

Sementara itu, sisa laba US$312,2 juta (sekitar Rp5,1 triliun) ditahan untuk memperkuat struktur permodalan dan pembiayaan ekspansi.

Strategi Bisnis Terbagi Dua Arah: Batu Bara dan Aluminium

ADMR, anak usaha dari PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (IDX:ADRO), memiliki dua jalur utama bisnis: batu bara metalurgi dan aluminium. Keduanya saling melengkapi arah pertumbuhan jangka panjang perusahaan.

Presiden Komisaris ADMR, Garibaldi Thohir atau Boy Thohir, menyatakan target volume penjualan batu bara metalurgi tahun ini berada di rentang 5,6–6,1 juta ton.

Produksi diproyeksikan tumbuh konsisten, seiring strategi diversifikasi pasar dan permintaan yang menguat dari Asia Tenggara, India, dan China.

India dan Asia Tenggara Jadi Motor Baru Permintaan Batu Bara

ADMR melihat peluang besar dari kebijakan India dalam mendorong swasembada dan peningkatan industri baja nasional. Negara tersebut diprediksi akan tetap mengandalkan impor batu bara metalurgi dalam jangka pendek.

Selain itu, pasar Asia Tenggara menunjukkan tren positif dengan peningkatan kapasitas produksi kokas. Di Indonesia sendiri, permintaan batu bara metalurgi tumbuh seiring kemampuan pabrik kokas lokal menyerap lebih banyak bahan baku domestik.

Dengan meningkatnya penerimaan pasar terhadap batu bara metalurgi asal Indonesia, ADMR yakin posisi domestik akan semakin kuat dan kompetitif secara global.

“Permintaan yang kuat dari kawasan akan menciptakan pertumbuhan signifikan, baik skala domestik maupun internasional,” tulis manajemen ADMR dalam laporan tahunan.

Proyek Smelter Aluminium Jadi Tulang Punggung Masa Depan

Lini bisnis aluminium menjadi fokus transformasi jangka panjang perusahaan. ADMR menanamkan investasi jumbo hingga US$2 miliar melalui PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI) untuk membangun smelter di Kawasan Industri Kalimantan Utara (Kaltara).

Pabrik tersebut ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada akhir 2025.

Permintaan aluminium global diprediksi terus meningkat, didorong perkembangan kendaraan listrik (EV) yang menyerap aluminium 30% lebih banyak dibanding kendaraan konvensional.

“Aluminium jadi material utama dalam revolusi otomotif dan energi bersih,” sebut laporan ADMR.

Tidak hanya sektor otomotif, permintaan juga disumbang dari proyek energi terbarukan seperti pembangkit tenaga angin dan surya.

Prospek Harga dan Katalis Tambahan

Meski ADMR melihat potensi permintaan meningkat, harga alumina sebagai bahan baku aluminium diperkirakan menurun pada 2025. Hal ini disebabkan membaiknya rantai pasok global dan adanya rencana peningkatan kapasitas smelter di Indonesia dan India.

Kondisi ini dapat menekan margin produksi, namun ADMR tetap optimistis mengingat skala proyek dan posisi strategis Indonesia sebagai produsen utama di Asia.

Sementara itu, untuk bisnis batu bara, manajemen masih mewaspadai volatilitas harga global dan risiko keterlambatan proyek akibat faktor teknis maupun regulasi.

Namun demikian, stabilitas keuangan ADMR didukung kuat oleh neraca laba dan komitmen belanja modal yang disiplin.

Target Harga Saham Didorong Prospek Kuat

Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Thomas Radityo, mempertahankan rekomendasi beli untuk saham ADMR. Ia menetapkan target harga Rp1.100 per saham, mengindikasikan potensi kenaikan sebesar 22,2% dari posisi saat ini.

“Kami menyukai ADMR karena kekuatan produksi batu bara kokas dan pertumbuhan dari proyek aluminium,” tulis Thomas dalam risetnya.

Target tersebut didasarkan pada proyeksi produksi yang konsisten, diversifikasi usaha yang matang, dan potensi katalis dari operasional smelter yang akan segera berjalan.

Alokasi Laba untuk Ekspansi Agresif

Dari total laba bersih tahun buku 2024 sebesar US$436 juta (setara Rp7,2 triliun), ADMR hanya membagikan 27,48% sebagai dividen.

Sisa laba diarahkan untuk memperkuat belanja modal yang tahun ini direncanakan sebesar US$300–325 juta.

Manajemen menegaskan strategi ekspansi difokuskan pada penyelesaian proyek aluminium serta optimalisasi rantai nilai batu bara metalurgi.

Langkah ini mencerminkan fokus jangka panjang ADMR dalam memperkuat keunggulan kompetitif melalui hilirisasi dan diversifikasi.

Dengan struktur bisnis terintegrasi dan peluang pasar yang luas, ADMR menyiapkan fondasi kokoh untuk tumbuh berkelanjutan.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.