NEW YORK, BursaNusantara.com – Inovasi teknologi kembali jadi senjata andalan JPMorgan Chase dalam memperkuat bisnis manajemen kekayaannya.
Di tengah dinamika pasar global yang penuh tekanan, bank terbesar di Amerika Serikat ini sukses memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mendorong pertumbuhan penjualan serta memperluas jangkauan ke segmen klien berpendapatan tinggi.
Mary Erdoes, CEO divisi Manajemen Aset dan Kekayaan JPMorgan, mengungkapkan bahwa kehadiran alat bantu AI telah mempercepat proses pelayanan dan pemberian saran investasi kepada klien.
Bahkan saat pasar terguncang akibat kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump, sistem AI JPMorgan mampu menjaga ritme pelayanan tanpa hambatan berarti.
Baca Juga: Emiten Tambang Prajogo Pangestu Menjadi Populer Internasional
AI Jadi Asisten Andal dalam Ketidakpastian Pasar
Erdoes menyebut bahwa lonjakan kebutuhan akan informasi dari para klien selama volatilitas ekstrem belakangan ini berhasil ditangani lebih efisien berkat peran AI.
Teknologi ini tak hanya membaca pergerakan pasar secara real-time, tapi juga memetakan preferensi historis klien, memungkinkan penasihat memberikan saran yang disesuaikan secara akurat dalam hitungan detik.
Salah satu alat unggulan, AI Coach, mempermudah pencarian riset dan konten hanya dalam sebagian kecil waktu dibanding metode konvensional.
Mike Urciuoli, Chief Information Officer di divisi tersebut, menambahkan bahwa AI Coach mampu memangkas waktu pencarian informasi hingga 95%.
Baca Juga: AI Mendorong Transformasi Ekonomi Digital RI
Dampaknya? Penasihat keuangan kini bisa lebih fokus membina relasi dengan klien dibanding menghabiskan waktu mencari dokumen.
Efisiensi Tinggi, Penjualan Meningkat Tajam
Menurut laporan internal JPMorgan, penerapan AI mendorong peningkatan penjualan kotor sebesar 20% pada segmen Manajemen Aset dan Kekayaan antara tahun 2023 dan 2024.
Ini menunjukkan bahwa teknologi bukan hanya mendukung kerja operasional, tapi juga berkontribusi signifikan pada pertumbuhan pendapatan.
Baca Juga: Akreditasi Paripurna: Standar Tertinggi untuk Layanan Homecare
Dengan alat AI generatif, tim JPMorgan bisa lebih strategis memilih prioritas kerja yang berdampak langsung bagi klien, termasuk menavigasi tantangan dalam periode pasar yang penuh ketidakpastian.
Bank ini juga menargetkan peningkatan jumlah klien sebesar 50% dalam kurun tiga hingga lima tahun ke depan. Hal ini dimungkinkan karena sebagian besar tugas riset kini diambil alih oleh sistem AI.
Ekspansi AI dalam Skala Besar
Tahun lalu, JPMorgan menggelontorkan anggaran teknologi senilai US$17 miliar. Dari jumlah itu, sebagian besar diarahkan untuk memperluas penerapan AI di berbagai lini.
Saat ini, lebih dari 200.000 komputer karyawan bank telah terhubung dengan sistem AI, dan lebih dari setengahnya menggunakannya secara aktif setiap hari.
Baca Juga: Joe Harahap: 15 Tahun Berkarier di Teknologi, “Kunci Sukses Saya: Banyak Mendengar, Sedikit Bicara”
Jumlah kasus penggunaan AI yang teridentifikasi telah mencapai 450, dan diprediksi akan menembus angka 1.000 dalam waktu dekat, menurut CEO Jamie Dimon.
“Tujuan kami adalah menjadikan AI sebagai alat kerja sehari-hari yang bisa diakses luas, bukan hanya oleh segelintir tim teknis,” ucap Erdoes.
Kontribusi Finansial dan Validasi Akademik
Efisiensi yang dicapai JPMorgan tak hanya berdampak operasional, tapi juga diakui secara akademik. Studi dari Harvard Business School menunjukkan bahwa penggunaan AI oleh 4.000 penasihat keuangan bank ini berhasil menghemat hingga US$1,5 miliar mulai dari pencegahan fraud, personalisasi layanan, hingga efisiensi keputusan kredit.
Baca Juga: Andry Hakim Bongkar Strategi Saham Konvensional & AI
Mike Mayo, analis Wells Fargo, bahkan memperkirakan potensi manfaat keuangan dari AI bisa mencapai US$1 miliar ke depannya.
“JPMorgan adalah raksasa yang tahu betul cara bermain di arena AI,” ungkap Mayo. “Dengan dana besar, strategi matang, dan eksekusi solid, mereka punya peluang besar mengambil alih pangsa pasar lebih luas.”
Apabila laju ini terus berlanjut, JPMorgan tampaknya bukan hanya memimpin sektor perbankan, tapi juga menetapkan standar baru dalam transformasi digital berbasis kecerdasan buatan di dunia keuangan.












