JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memproyeksikan penjualan emas mencapai 45 ton sepanjang 2025.
Target ambisius ini sejalan dengan pertumbuhan permintaan emas yang stabil di tengah fluktuasi harga komoditas tersebut.
Strategi Antam Jaga Pasokan dan Distribusi
Untuk memastikan terpenuhinya permintaan pasar, Antam berkomitmen mengoptimalkan seluruh rantai produksi dan distribusi.
Corporate Secretary Antam, Faisal Alkadrie, menegaskan bahwa perusahaan akan mengandalkan tambang emas Pongkor di Bogor, Jawa Barat, sebagai tulang punggung suplai domestik.
Selain Pongkor, pasokan emas Antam juga diperkuat melalui kerja sama dengan PT Freeport Indonesia (PTFI), anak usaha holding pertambangan MIND ID.
Baca Juga: Antam Bukukan Rekor Penjualan Emas dan Genjot Hilirisasi
Dari kolaborasi ini, Antam telah menerima pengiriman perdana sebesar 125 kilogram emas batangan. PTFI sendiri berencana memasok hingga 28 ton emas hingga akhir 2025.
Langkah ini menjadi bagian penting dari upaya Antam untuk menjaga ketersediaan produk logam mulia di tengah tingginya permintaan lokal.
Pembangunan Fasilitas Manufaktur Baru
Mendorong efisiensi produksi dan meningkatkan kapasitas, Antam saat ini tengah membangun fasilitas manufaktur logam mulia di Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur.
Fasilitas ini dijadwalkan memulai konstruksi pertama pada kuartal IV-2025, dengan kapasitas produksi mencapai 5 juta keping emas batangan, koin, dan emas industri per tahun.
Kehadiran pabrik baru ini diharapkan dapat mempercepat pemrosesan bahan baku emas dalam negeri dan memperkuat posisi Antam di pasar logam mulia nasional.
“Pabrik ini dirancang untuk mengoptimalkan proses produksi emas domestik sekaligus memperkuat efisiensi operasional,” ujar Faisal.
Alternatif Impor untuk Memenuhi Kebutuhan
Meskipun fokus pada suplai domestik, Antam tetap membuka opsi impor emas sebagai bagian dari siklus produksi. Langkah ini menjadi solusi untuk mengantisipasi lonjakan permintaan yang tidak dapat sepenuhnya dipenuhi oleh produksi dalam negeri.
Direktur Portofolio dan Pengembangan Usaha MIND ID, Dilo Seno Widagdo, menyampaikan bahwa produksi emas holding MIND ID saat ini mencapai 130 ton per tahun.
Namun, pertumbuhan permintaan dari 70 ton menjadi 100 ton menuntut fleksibilitas tambahan dalam strategi pasokan.
“Opsi impor tetap menjadi alternatif untuk menjaga keseimbangan supply-demand emas di pasar nasional,” ujar Dilo.
Dinamika Harga dan Permintaan Emas di Dalam Negeri
Pada Rabu (23/04/2025), harga emas batangan Antam tercatat turun signifikan menjadi Rp 1.991.000 per gram, turun Rp 48.000 dibandingkan hari sebelumnya, setelah sempat menyentuh rekor tertinggi.
Namun, penurunan harga ini tidak mengurangi minat investasi masyarakat terhadap emas. Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan bahwa permintaan emas tetap tinggi meskipun tantangan pasokan mulai terasa.
“Demand-nya tetap kuat, tapi barangnya mulai terbatas,” ungkap Ibrahim.
Ia juga menyoroti bahwa total transaksi investasi emas melalui Bullion Bank seperti di BSI dan Pegadaian telah mencapai Rp 1,5 triliun.
Lonjakan ini mencerminkan tingginya antusiasme masyarakat dalam berinvestasi logam mulia di tengah ketidakpastian ekonomi.
Dengan langkah strategis memperkuat produksi lokal dan perluasan kapasitas manufaktur, Antam optimistis dapat mengoptimalkan momentum ini untuk memperbesar kontribusinya di industri emas nasional.












