Geser Kebawah
Ekonomi Makro

Awas! Trump Dapat Jadi Tantangan untuk Stabilitas Utang RI

87
×

Awas! Trump Dapat Jadi Tantangan untuk Stabilitas Utang RI

Sebarkan artikel ini
awas trump dapat jadi tantangan untuk stabilitas utang ri kompres
Kebijakan Trump 2024 berdampak pada pasar keuangan Indonesia. Bagaimana strategi pemerintah menjaga stabilitas ekonomi di tengah gejolak global?

JAKARTA, BursaNusantara.com – Kemenangan Donald Trump dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) tahun 2024 membawa kembali kebijakan kontroversial yang dapat mengguncang pasar keuangan global, termasuk Indonesia.

Dengan fokus pada proteksionisme ekonomi dan belanja fiskal besar-besaran, kebijakan Trump mengancam stabilitas ekonomi negara-negara berkembang.

Sponsor
Iklan

Kementerian Keuangan Indonesia menyadari potensi dampak besar yang ditimbulkan oleh kebijakan Trump terhadap pasar keuangan domestik.

“Kebijakan Trump yang dapat meningkatkan yield US Treasury Note jelas akan memengaruhi pasar keuangan Indonesia, terutama melalui kanal investasi dan perdagangan,” ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan dalam wawancara dengan CNBC Indonesia.

Gejolak Pasar Surat Berharga Negara (SBN)

Pada pekan kedua Januari 2025, data Bank Indonesia menunjukkan adanya aksi jual neto oleh investor asing sebesar Rp2,9 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN).

Padahal, pada pekan pertama, tercatat aksi beli neto sebesar Rp1,94 triliun. Yield SBN 10 tahun pun naik signifikan ke 7,18% dari sebelumnya 6,95%, seiring dengan kenaikan yield US Treasury Note 10 tahun ke level 4,689% pada 9 Januari 2025.

Kenaikan yield US Treasury ini menimbulkan potensi besar aliran modal keluar dari pasar keuangan Indonesia. Ketidakpastian global memaksa pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah-langkah strategis guna menjaga stabilitas makroekonomi.

Strategi Pemerintah Menghadapi Tantangan

Pemerintah Indonesia telah menyusun berbagai strategi untuk memitigasi risiko yang ditimbulkan oleh kebijakan Trump. Beberapa langkah yang dilakukan meliputi:

  1. Menjaga Stabilitas Makroekonomi “Inflasi, nilai tukar rupiah, dan neraca pembayaran akan terus dijaga agar tetap stabil. Fiskal yang prudent dan berkelanjutan menjadi prioritas utama,” tegas Suminto, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko.
  2. Pendekatan Oportunistik dalam Pembiayaan Pemerintah menerapkan strategi fleksibel untuk mengelola pembiayaan APBN. Penerbitan SBN dilakukan dengan memperhatikan dinamika pasar global, sehingga biaya bunga dapat diminimalkan dan risiko tetap terkendali.
  3. Meningkatkan Kepercayaan Investor Dengan pertumbuhan ekonomi stabil di kisaran 5%, inflasi terkendali, defisit fiskal terjaga di level 2,29%, dan utang negara yang terkendali, Indonesia tetap menjadi destinasi investasi menarik bagi investor global. Spread antara yield SBN dan US Treasury Note masih cukup kompetitif, mencerminkan kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia.

Dampak Kebijakan Trump di Tingkat Global

Kebijakan ekonomi Trump, seperti kenaikan tarif perdagangan dan pemotongan pajak, berpotensi memperburuk ketidakstabilan global.

Belanja fiskal besar-besaran di AS memicu kenaikan imbal hasil surat berharga pemerintah, sehingga menarik arus modal dari negara berkembang ke AS. Dampak ini terlihat dari tekanan pada nilai tukar mata uang negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Namun demikian, Indonesia memiliki posisi yang relatif kuat. Dengan strategi ekonomi yang terukur dan fundamental yang kokoh, pemerintah optimis bahwa pasar keuangan domestik tetap menarik bagi investor, meski menghadapi tekanan eksternal.

Kemenangan Trump membawa tantangan baru bagi stabilitas ekonomi global dan domestik. Namun, dengan strategi yang tepat, Indonesia dapat mengelola dampak tersebut secara efektif. Pemerintah terus berupaya menjaga kepercayaan investor dan memastikan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah dinamika global yang tidak menentu.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru