BREN Tergelincir ke Titik Kritis, Sentimen Pasar Terbelah
JAKARTA, BursaNusantara.com – Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) kembali ditutup melemah 1,27% ke posisi Rp5.825 pada perdagangan Rabu (2/7/2025) di tengah tekanan yang terus membayangi sektor energi baru terbarukan.
Penurunan ini terjadi setelah 15,64 juta saham BREN berpindah tangan dengan total frekuensi 5.214 kali dan nilai transaksi menyentuh Rp91,17 miliar.
Dalam sebulan terakhir, harga saham BREN telah turun 6,05% dan bahkan anjlok 37,20% sejak awal tahun berjalan.
Tekanan ini menempatkan BREN di posisi swing low teknikal di kisaran Rp5.900, yang oleh sejumlah analis dianggap sebagai titik krusial.
Galeri Saham dalam catatannya menyebutkan bahwa saham BREN kini sedang “bermain” di area krusial dan menyarankan strategi buy on weakness.
Jika mampu bertahan di atas area ini, saham berpeluang mengalami technical rebound dengan target menuju swing high Rp6.825.
Namun, jika tekanan jual terus berlanjut dan harga tembus di bawah support Rp5.750, potensi koreksi lebih dalam bisa terjadi.
Dinamika Teknis: Antara Buy On Weakness dan Ancaman Breakdown
Kondisi teknikal saham BREN saat ini menyajikan dinamika menarik yang membuka ruang manuver spekulatif bagi pelaku pasar.
Galeri Saham secara spesifik menekankan bahwa area Rp5.900 menjadi titik strategis sebagai basis pembentukan pantulan harga.
Konsistensi bertahan di atas titik ini akan membuka ruang bagi kenaikan menuju area Rp6.825 sebagai target swing high.
Namun strategi ini tetap mengandung risiko tinggi jika support jangka pendek Rp5.750 ditembus karena bisa memicu panic selling lanjutan.
Bagi investor dengan strategi jangka menengah, momentum ini menjadi fase akumulasi selektif yang harus disertai manajemen risiko ketat.
Dengan volume transaksi harian yang cenderung tinggi, volatilitas BREN diprediksi masih akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan.
Pinjaman Jumbo Rp1,98 Triliun: Optimisme Fundamental Tak Terbaca Pasar?
Di balik tekanan harga, BREN sejatinya tengah menjalankan agenda besar ekspansi panas bumi melalui pinjaman jumbo dari dua bank internasional.
Pinjaman senilai US$121,1 juta atau setara Rp1,98 triliun itu diperoleh dari DBS Bank Ltd dan SMBC pada 19 Juni 2025.
Fasilitas tersebut disalurkan ke tiga anak usaha yakni SEGPL, SEGN B.V., dan SEGSD B.V. dengan struktur pinjaman dua skema: fasilitas A dan B.
Fasilitas A senilai US$96,1 juta dialokasikan kepada SEGPL dan SEGN B.V. sementara fasilitas B sebesar US$25 juta ditujukan kepada SEGSD B.V.
Tujuan pendanaan ini difokuskan untuk mendukung proyek strategis Salak-Darajat, termasuk retrofitting Unit 3 dan pembangunan Unit 7 dengan tambahan kapasitas 47 MW.
Proyek ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas terpasang dan efisiensi operasional jangka panjang portofolio panas bumi BREN.
Proyek Hijau Jalan Terus, Tapi Harga Saham Justru Berbalik Arah
Meski proyek energi hijau BREN terus berprogres, dinamika harga saham tidak mencerminkan optimisme yang sama dari sisi investor ritel.
Pasar tampaknya masih menunggu bukti nyata bahwa ekspansi ini dapat segera berdampak positif terhadap kinerja keuangan dan arus kas perusahaan.
Direktur & Corporate Secretary BREN, Agus Sandy Widyanto, menegaskan bahwa pinjaman ini akan memperkuat likuiditas anak usaha dan menopang kelangsungan operasional.
Namun demikian, pasar tampak belum mengapresiasi langkah strategis tersebut secara langsung di pergerakan harga saham.
Dengan tenggat pelunasan lima tahun ke depan (18 Juni 2030), dampak finansial terhadap laporan keuangan konsolidasian baru terasa dalam jangka menengah-panjang.
Spekulasi Pasar Terbagi: Antara Rebound atau Lanjut Melemah
Situasi teknikal BREN menempatkan saham ini dalam posisi spekulatif tinggi, dengan dua skenario besar yang bisa terjadi dalam waktu dekat.
Skenario pertama, jika saham bertahan di atas Rp5.900 dan muncul sinyal pantulan teknikal, peluang menuju Rp6.825 terbuka kembali dalam jangka pendek.
Skenario kedua, jika harga menembus support Rp5.750, maka tekanan jual akan semakin dalam dan membuka potensi pengujian level psikologis berikutnya di bawah Rp5.500.
Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung dibelah dua kubu: antara yang melihat ini sebagai peluang beli murah dan yang memilih menghindar hingga tekanan mereda.
Dengan latar belakang fundamental yang menjanjikan, namun dinamika teknikal yang masih rentan, saham BREN menjadi medan tarik-menarik kepentingan investor jangka pendek dan jangka panjang.
Perdagangan dalam beberapa hari ke depan akan menjadi penentu arah baru, apakah BREN berhasil menciptakan titik balik atau justru membuka ruang koreksi lebih dalam.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












