Geser Kebawah
HeadlineKomoditasPasar

Dampak Kenaikan Harga Minyak Dunia: Selat Hormuz Memanas, APBN Terancam?

33
×

Dampak Kenaikan Harga Minyak Dunia: Selat Hormuz Memanas, APBN Terancam?

Sebarkan artikel ini

Eskalasi Selat Hormuz Memicu Kekhawatiran Pasokan Energi Global

JAKARTA, BursaNusantara.com – Dunia kini tengah menghadapi ancaman krisis energi yang nyata setelah jalur perdagangan minyak paling vital, Selat Hormuz, berubah menjadi zona konflik bersenjata.

Serangan proyektil terhadap tiga kapal di Teluk Persia bukan sekadar gangguan logistik, melainkan sinyal bahaya bagi stabilitas ekonomi global yang dapat memicu lonjakan inflasi tak terkendali.

Sentimen ketakutan pasar ini terbukti lebih kuat dibandingkan langkah darurat International Energy Agency (IEA) yang baru saja mencatatkan sejarah baru.

Mengapa Pelepasan 400 Juta Barel Cadangan IEA Gagal Meredam Pasar?

Harga minyak Brent untuk kontrak Mei 2026 justru melonjak tajam sekitar 6,7 persen ke level USD98,1 per barel pada Kamis (12/3/2026) sore.

Kenaikan ini tetap terjadi meski IEA telah sepakat melepas cadangan minyak strategis sebesar 400 juta barel pada Rabu (11/3/2026).

Langkah tersebut merupakan pelepasan cadangan terbesar dalam sejarah organisasi, namun pasar menilai angka ini masih relatif kecil dibanding risiko yang ada.

Berdasarkan analisis Macquarie Group, total cadangan yang dilepas IEA tersebut hanya setara dengan sekitar 16 hari volume minyak yang melewati Selat Hormuz.

Sebagai informasi, Selat Hormuz mengalirkan sekitar 20 juta barel minyak per hari, atau setara seperlima dari total perdagangan minyak dunia.

Militer Iran melalui Ebrahim Zolfaqari bahkan telah memperingatkan bahwa harga minyak berpotensi meroket hingga ke level USD200 per barel.

Dilema APBN Indonesia: Kenaikan BBM atau Pemangkasan Belanja?

Lonjakan harga minyak dunia ini memberikan tekanan ganda terhadap postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia secara signifikan.

Berdasarkan riset Stockbit, pemerintah kini berada pada persimpangan sulit untuk menjaga keseimbangan fiskal di tengah beban subsidi yang membengkak.

Semakin lama harga bertahan di level tinggi, pilihan yang tersedia hanya dua: melakukan penyesuaian harga BBM atau merombak total struktur belanja negara.

Namun, sejarah mencatat bahwa gejolak harga energi ini tidak selalu membawa kabar buruk bagi pasar modal domestik.

Kenaikan harga minyak secara historis sering kali memicu efek domino pada kenaikan harga komoditas ekspor unggulan Indonesia lainnya.

Produk seperti batu bara dan minyak kelapa sawit (CPO) biasanya ikut terkerek naik, memberikan bantalan ekonomi bagi neraca perdagangan nasional.

Skenario Investasi: Apakah Saham Komoditas Masih Menjadi Safe Haven?

Dalam kondisi harga minyak yang tinggi secara berkepanjangan, investor cenderung mengalihkan portofolio ke sektor yang diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas.

Di sektor batu bara, emiten seperti PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dinilai memiliki daya tarik kuat.

Sementara itu, di sektor CPO, emiten PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) menjadi opsi strategis bagi para pelaku pasar.

Saat ini, pasar masih memantau dua faktor kunci yang dapat menormalisasi harga minyak di masa depan.

Intervensi pasokan melalui sisa cadangan IEA sebesar 1,2 miliar barel diharapkan mampu memberikan kepastian jadwal pelepasan harian.

Selain itu, potensi terjadinya demand destruction akibat kebijakan suku bunga ketat diharapkan mampu menekan permintaan energi secara global.

Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Tinggalkan Balasan