Euforia Dividen Dongkrak Harga SGRO, Tapi Analis Minta Waspada
JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga saham PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) melesat 30,8% hanya dalam lima hari terakhir, seiring pengumuman pembagian dividen jumbo sebesar Rp 330 per saham.
Reli harga ini dipicu euforia investor atas imbal hasil dividen yang mencapai 12,8%. Namun, para analis menilai lonjakan ini berpotensi memicu koreksi jangka pendek.
Potensi Koreksi Jangka Pendek
Research Analyst Kiwoom Sekuritas, Miftahul Khaer, menyebut lonjakan tajam ini memberi ruang bagi aksi ambil untung.
“Karena itu, kami melihat potensi koreksi jangka pendek akibat aksi profit taking, mengingat kenaikannya yang signifikan dalam waktu singkat,” ujarnya kepada Kontan, 16 Mei 2025.
Baca Juga: Sampoerna Agro Ubah Fokus Bisnis Jadi Holding Company
Meski demikian, Miftahul menilai SGRO tetap memiliki fundamental yang solid. Laba bersih perusahaan pada 2024 tumbuh positif, didorong efisiensi produksi dan pemangkasan biaya pemasaran.
Dividen Konsisten dan Valuasi Wajar
Miftahul menekankan SGRO memiliki rekam jejak pembagian dividen yang konsisten meskipun rasio payout-nya bervariasi sesuai kinerja tahunan.
“Dari sisi valuasi, setelah kenaikan harga saham belakangan ini SGRO masih diperdagangkan di kisaran fair value. Jadi belum bisa dikatakan overvalued,” tegasnya.
Ke depan, prospek pertumbuhan SGRO dinilai menjanjikan berkat strategi intensifikasi kebun dan target peningkatan produksi CPO sebesar 5% pada 2025.
Baca Juga: Pajak Kripto Dorong Pendapatan Negara Hingga Rp 979,08 Miliar
Namun, ia menekankan pentingnya mencermati tantangan seperti volatilitas harga CPO dan isu keberlanjutan lingkungan yang bisa mempengaruhi kinerja jangka panjang.
Tekanan Teknikal dan Risiko Dividend Trap
Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, Iqbal Suyudi, menggarisbawahi risiko teknikal di harga saat ini.
“SGRO saat ini cukup rawan koreksi. Saham ini sudah menembus level all time high dan berada di area overbought menurut stochastic RSI,” ujar Iqbal.
Menurutnya, ada risiko dividend trap, yakni ketika harga saham turun drastis setelah cum date karena dibeli semata-mata untuk mengejar dividen tinggi.
Tergantung Produksi dan Harga Global
Lebih jauh, Iqbal menilai arah saham SGRO sangat dipengaruhi kapasitas produksi CPO serta dinamika harga CPO global.
Baca Juga: PGEO Gandeng Sinopec, Potensi Naik Saham NEV Terbuka
“Faktor eksternal seperti perang dagang AS-China serta permintaan dari India juga sangat menentukan,” paparnya.
Meski fundamentalnya kuat, Iqbal dan Miftahul sama-sama menempatkan SGRO dalam rating wait and see. Mereka menekankan pentingnya mencermati pergerakan harga komoditas dan realisasi operasional sebelum mengambil keputusan investasi.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.









