BisnisEnergi

Ekspor Batubara RI Anjlok, China-India Pangkas Impor Awal 2025

138
Ekspor Batubara RI Anjlok, China-India Pangkas Impor Awal 2025
Ekspor batubara Indonesia turun 12% akibat lesunya permintaan dari China dan India. Potensi kontraksi tahunan mengintai.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Ekspor batubara termal Indonesia menyentuh titik terendah dalam tiga tahun pada awal 2025, terdampak penurunan tajam permintaan dari dua pembeli utama: China dan India.

Data perusahaan intelijen komoditas Kpler mencatat, ekspor batubara RI dari Januari hingga April 2025 mencapai sekitar 150 juta ton.

Angka ini turun 12% atau hampir 20 juta ton dibanding periode yang sama 2024. Ini menjadi penurunan tahunan terbesar sejak 2017.

Tekanan Global Ekspor Batubara

Sebagai eksportir batubara termal terbesar dunia, kinerja Indonesia turut memengaruhi pasar global.

Baca Juga: PTBA Raup Laba Rp 391 Miliar Meski Harga Batubara Turun

Ekspor global batubara termal juga tercatat turun 7% atau sekitar 23 juta ton pada periode empat bulan pertama 2025.

Jika tren ini terus berlanjut, 2025 bisa menjadi tahun pertama ekspor batubara RI menyusut sejak pandemi COVID-19 pada 2020.

China dan India Kurangi Ketergantungan

China mengurangi impor dari Indonesia sebesar 20% atau setara 14 juta ton.

Langkah ini sejalan dengan strategi pemerintah Beijing yang mendorong peningkatan produksi dalam negeri dan pengurangan emisi.

Baca Juga: Harga Batu Bara Anjlok, Dampak Impor India Terhadap Pasar Global

India pun mengikuti langkah serupa. Negara konsumen batubara terbesar kedua dunia ini memangkas impor dari Indonesia sebesar 15% atau sekitar 6 juta ton.

Negara Lain Ikut Kurangi Pembelian

Negara importir utama lainnya seperti Jepang dan Korea Selatan mencatatkan penurunan signifikan.

Total impor dari Indonesia hanya 13 juta ton pada Januari–April 2025, turun dari 17 juta ton pada periode sama tahun lalu.

Negara Asia lainnya seperti Taiwan, Thailand, Filipina, Malaysia, dan Pakistan juga mengurangi pembelian.

Tekanan ekonomi akibat perlambatan industri China turut mendorong pelemahan permintaan energi di kawasan.

Baca Juga: Dorongan Revisi Tarif Cukai, Industri Rokok Perlu Nafas Baru

Energi Bersih dan Krisis Industri

Penurunan konsumsi batubara mencerminkan transisi menuju energi bersih dan perlambatan industri di Asia.

Data Ember menunjukkan, pembangkit listrik berbasis batubara di Asia turun 3% pada kuartal I-2025 secara tahunan.

Kondisi ini diperburuk oleh sektor konstruksi dan manufaktur China yang masih lesu.

Dampaknya menyebar ke negara-negara tetangga melalui rantai pasok regional.

Baca Juga: TNI Dikerahkan Amankan Kejaksaan, Bukan Karena Situasi Khusus

Efek Tarif Dagang AS dan Ketidakpastian Global

Kebijakan tarif tinggi Presiden AS Donald Trump menambah tekanan bagi sektor manufaktur Asia.

Jika ketegangan dagang terus berlanjut, konsumsi energi industri bisa melemah lebih dalam.

Permintaan batubara pun berisiko terus merosot, terutama di negara-negara importir utama.

Vietnam dan Bangladesh Jadi Pengecualian

Meski banyak negara menahan impor, Vietnam dan Bangladesh justru mencatatkan rekor pembelian batubara RI.

Baca Juga: Trump Janji Bantu Damai Kashmir, Gencatan India–Pakistan Masih Rawan

Keduanya tengah menghadapi lonjakan kebutuhan energi domestik untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Negara-negara seperti Spanyol, Italia, Rumania, dan Selandia Baru juga meningkatkan impor karena mahalnya harga gas alam.

Pasar Barat Belum Ubah Arah

Meski konsumsi batubara di AS naik lebih dari 20% dibanding tahun lalu, dampaknya terhadap ekspor RI masih terbatas.

AS juga merupakan eksportir batubara, sehingga peningkatan konsumsi lebih banyak dipenuhi dari produksi dalam negeri.

Baca Juga: PNS Dapat Gaji ke-13 Juni 2025, Ini Rinciannya

Potensi Kontraksi Tahunan dan Titik Jenuh

Dengan permintaan dari China dan India yang belum menunjukkan tanda rebound, ekspor batubara RI berisiko mengalami kontraksi tahunan yang langka.

Kondisi ini bisa menjadi sinyal bahwa arus ekspor batubara global mulai mencapai puncaknya.

Industri harus bersiap menghadapi fase baru yang ditandai oleh transisi energi, perlambatan industri berat, dan ketidakpastian geopolitik.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version