Geser Kebawah
HeadlineKomoditasPasar

Harga Batu Bara Dekati US$97, Lo Kheng Hong Angkat Suara

165
×

Harga Batu Bara Dekati US$97, Lo Kheng Hong Angkat Suara

Sebarkan artikel ini
Harga Batu Bara Dekati US$97, Lo Kheng Hong Angkat Suara
Harga batu bara turun mendekati US$97 per ton, level terendah 4 tahun. Lo Kheng Hong berharap harga bisa bangkit kembali.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga batu bara berjangka Newcastle kembali tergelincir ke bawah level psikologis US$100 per ton, mendekati posisi terendah dalam empat tahun terakhir sebesar US$97 yang tercatat pada Maret 2025.

Penurunan ini terjadi di tengah lemahnya permintaan global serta meningkatnya pasokan dari produsen utama dunia, seperti Tiongkok dan Indonesia.

Sponsor
Iklan

Produksi Global Naik, Permintaan Melemah

Menurut laporan Trading Economics, produsen batu bara terbesar di Tiongkok berencana menaikkan produksi sebesar 1,5% menjadi 4,82 miliar ton pada 2025, setelah mencatat rekor output pada 2024.

Baca Juga: BREN Dikecualikan dari MSCI, Manajemen Angkat Bicara

Indonesia juga mencatat rekor produksi sebesar 836 juta ton tahun lalu, melampaui target tahunan sebesar 18%.

Namun, lonjakan produksi ini tidak diimbangi dengan permintaan.

Pada kuartal I/2025, impor batu bara global tercatat turun ke level triwulanan terendah dalam tiga tahun terakhir.

Baca Juga: Skandal Korupsi Pertamina Rp 1 Kuadriliun: Kontroversi dan Imbas Politik

Negara Besar Kurangi Impor

Empat negara pengimpor utama—Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan—kompak memangkas pembelian batu bara lebih dari 10%.

Tiongkok bahkan mencatat penurunan impor sebesar 18 juta ton.

Langkah ini sejalan dengan peningkatan bauran energi bersih, di mana negara-negara tersebut mulai mengandalkan energi terbarukan dan pembangkit ramah lingkungan.

Baca Juga: Harga Emas Antam Naik Lagi, Rekor Baru di Depan Mata?

Meski demikian, sejumlah negara berkembang seperti Turki, Vietnam, dan Bangladesh justru meningkatkan volume impor batu baranya.

Ketegangan Global dan Harapan Investor Legendaris

Sementara itu, tensi geopolitik turut memberi tekanan pada harga komoditas. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerapkan tarif agresif, yakni sebesar 34% untuk barang-barang asal Tiongkok dan 26% untuk produk dari India.

Di tengah kondisi harga yang melemah, investor kawakan Lo Kheng Hong angkat suara.

Baca Juga: Trump dan Xi Jinping Bahas TikTok, Perdagangan, dan Masa Depan Hubungan AS-Tiongkok

Sebagai sosok yang dikenal gemar mengoleksi saham emiten batu bara, ia menyampaikan harapannya terkait kondisi pasar saat ini.

“Saya berharap harga batu bara yang turun dapat kembali naik seperti dahulu,” ungkapnya kepada media pada 10 Maret 2025.

Baca Juga: Harga Batu Bara Terus Merosot, Sentimen Negatif dari China Menekan Pasar

Situasi harga batu bara global saat ini menempatkan investor pada posisi menanti, sembari mencermati arah pasar dan dinamika geopolitik yang masih bergerak dinamis.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.