Geser Kebawah
HeadlineKomoditasPasar

Harga Emas Meroket 26% pada 2024, Rekor Tertinggi Sejak 2010

82
×

Harga Emas Meroket 26% pada 2024, Rekor Tertinggi Sejak 2010

Sebarkan artikel ini
harga emas meroket 26 persen pada 2024 rekor tertinggi sejak 2010 kompres
Harga emas melonjak lebih dari 26% sepanjang 2024, mencatat kenaikan tahunan terbesar sejak 2010. Simak analisis lengkapnya di sini!

NEW YORK, Bursa Nusantara Official – Harga emas mencetak kenaikan tahunan terbesar dalam lebih dari satu dekade dengan melonjak lebih dari 26% sepanjang 2024. Kenaikan ini menjadi yang tertinggi sejak 2010, didorong oleh lonjakan permintaan aset safe haven dan pemangkasan suku bunga oleh bank sentral di seluruh dunia.

Pada perdagangan terakhir tahun ini, Selasa (31/12/2024), harga emas spot naik 0,7% menjadi US$ 2.622,85 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS mencatat kenaikan 0,8% ke level US$ 2.638,10 per ons. Sepanjang tahun, emas bahkan sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di angka US$ 2.790,15 per ons pada 31 Oktober.

Sponsor
Iklan

Faktor Pemicu Lonjakan Harga Emas

Menurut para analis, kenaikan harga emas yang signifikan pada 2024 didorong oleh sejumlah faktor utama:

  1. Pembelian Besar-besaran oleh Bank Sentral
    Bank sentral di berbagai negara meningkatkan cadangan emas mereka sebagai bentuk diversifikasi dari aset berbasis dolar. Tren ini diperkuat oleh ketidakpastian geopolitik dan pelonggaran kebijakan moneter global.
  2. Ketakutan Politik
    Setelah kemenangan tegas Donald Trump dalam pemilu AS, ketakutan politik mencapai puncaknya. Analis menyebutkan bahwa kebijakan Trump yang cenderung proteksionis memicu ketidakpastian, sehingga mendorong investor beralih ke emas.
  3. Euforia Pasar
    Meskipun emas kehilangan momentum pada November akibat penguatan dolar AS, para analis percaya bahwa tren bullish emas akan berlanjut. Ketidakpastian global dan perlambatan ekonomi di berbagai negara menjadi alasan utama.

Proyeksi untuk Tahun 2025

Meskipun 2024 ditutup dengan kinerja emas yang mengesankan, prospek tahun 2025 dinilai tidak sepenuhnya positif. “Emas berada dalam pasar bullish sekuler, tetapi arah pergerakannya tidak akan satu arah seperti pada 2024,” kata Nicky Shiels, Kepala Strategi Logam di MKS PAMP SA.

Beberapa risiko terhadap tren bullish emas meliputi:

  • Kebijakan inflasi yang berpotensi diterapkan oleh pemerintahan kedua Donald Trump.
  • Perlambatan pemangkasan suku bunga oleh The Fed.
  • Ancaman tarif yang dapat memperlambat pembelian emas oleh bank sentral.

Namun, Tom Mulqueen, Strategis Logam di Citi Global Markets, tetap optimis. Ia memperkirakan emas akan kembali menguat, didukung oleh penurunan pasar tenaga kerja AS dan peningkatan permintaan dari ETF. “Kami memperkirakan harga emas bisa menembus US$ 2.800 per ons pada akhir 2025,” ujarnya.

Kinerja Logam Mulia Lainnya

Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga mencatatkan kinerja yang mencolok pada 2024:

  • Perak
    Harga perak melonjak hampir 22% sepanjang tahun ini. Mulqueen memperkirakan harga perak dapat mencapai US$ 36 per ons pada 2025, seiring dengan defisit pasar yang besar.
  • Platinum dan Palladium
    Kedua logam ini mencatatkan kerugian tahunan masing-masing lebih dari 8% dan 17%. Penurunan ini disebabkan oleh melemahnya permintaan industri otomotif.

2024 menjadi tahun bersejarah bagi harga emas, dengan pencapaian kenaikan tahunan terbesar dalam lebih dari satu dekade. Namun, para investor tetap perlu waspada terhadap risiko-risiko yang dapat memengaruhi tren ini pada 2025. Dengan demikian, emas tetap menjadi aset menarik di tengah ketidakpastian global.


Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.