Geser Kebawah
HeadlineKomoditasPasar

Harga Minyak Dunia Melejit, Dipicu Cuaca Dingin dan Stimulus China

86
×

Harga Minyak Dunia Melejit, Dipicu Cuaca Dingin dan Stimulus China

Sebarkan artikel ini
harga minyak dunia melejit dipicu cuaca dingin dan stimulus china kompres
Harga minyak mentah global naik signifikan, didorong cuaca dingin ekstrem di Eropa dan AS serta kebijakan stimulus ekonomi China yang memicu harapan pertumbuhan permintaan.

HOUSTON, BursaNusantara.com – Harga minyak mentah global mengalami kenaikan signifikan pada Jumat (3/1/2025), didorong oleh kombinasi faktor cuaca dingin ekstrem di Eropa dan Amerika Serikat serta pengumuman kebijakan stimulus ekonomi dari China.

Menurut laporan Reuters, harga minyak mentah Brent meningkat sebesar US$ 0,69 (0,9%) menjadi US$ 76,62 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melonjak US$ 1,11 (1,5%) ke angka US$ 74,24 per barel.

Sponsor
Iklan

Secara mingguan, Brent diproyeksikan naik 3,3%, sementara WTI diperkirakan mencatat kenaikan hingga 5%.

Dukungan Kebijakan Stimulus China

China, sebagai importir minyak terbesar dunia, terus memanfaatkan kebijakan stimulus ekonomi untuk meningkatkan konsumsi domestik dan investasi. Pemerintah China telah mengumumkan langkah-langkah baru, termasuk:

  1. Kenaikan upah pegawai pemerintah.
  2. Pendanaan besar melalui obligasi ultra-jangka panjang untuk mendukung inisiatif investasi bisnis.

Langkah ini memicu ekspektasi bahwa permintaan minyak global akan meningkat, terutama dari China.

“China terus memberikan sinyal kuat untuk memacu aktivitas ekonomi, dan pasar merespons positif,” kata John Kilduff, mitra di Again Capital, New York.

Langkah-langkah stimulus ini sekaligus mengubah sentimen pasar yang sebelumnya khawatir terhadap permintaan minyak China sepanjang tahun lalu.

Cuaca Dingin Menambah Permintaan

Selain stimulus China, cuaca dingin ekstrem yang melanda wilayah Eropa dan AS menjadi pendorong utama permintaan minyak, khususnya untuk bahan bakar pemanas.

Menurut Giovanni Staunovo, analis dari UBS, suhu dingin meningkatkan konsumsi minyak pemanas secara signifikan, memberikan dorongan tambahan terhadap permintaan minyak.

Sementara itu, data dari Badan Informasi Energi AS (EIA) mengungkapkan penurunan stok minyak mentah AS sebesar 1,2 juta barel menjadi 415,6 juta barel selama seminggu terakhir. Namun, stok bensin dan distilat justru meningkat seiring percepatan produksi kilang di tengah rendahnya permintaan bahan bakar.

Penguatan Dolar AS Menjadi Hambatan

Di sisi lain, penguatan dolar AS menjadi hambatan utama yang menahan kenaikan harga minyak lebih lanjut. Dalam dua bulan terakhir, dolar mencatat pekan terbaiknya, meskipun melemah tipis pada Jumat.

Penguatan dolar membuat minyak menjadi lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain, sehingga dapat mengurangi permintaan. Selain itu, suku bunga yang tinggi di AS meningkatkan biaya pinjaman, berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dan konsumsi minyak.

Harga minyak mentah global diperkirakan tetap kuat dalam waktu dekat, dengan dukungan dari cuaca dingin serta kebijakan stimulus ekonomi China yang agresif. Namun, penguatan dolar dan potensi kenaikan suku bunga AS tetap menjadi faktor yang dapat menghambat momentum kenaikan harga.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.