Anomali Pelepasan Posisi Hedge Fund di Tengah Blokade Hormuz
Mengapa Pasar Tiba-Tiba Melakukan Aksi Jual Masif?
Penurunan tajam dari level tertinggi harian ini rupanya tidak dilandasi oleh pemicu fundamental yang terukur dengan jelas.
Analis PVM, Tamas Varga, menegaskan bahwa pelemahan harga sama sekali tidak berkaitan dengan perkembangan spesifik di lapangan.
Volatilitas ekstrem yang terjadi semata-mata mencerminkan kekacauan psikologis pasar sejak perang di Timur Tengah meletus pada akhir Februari.
Data dari LSEG merekam adanya dua pesanan jual berukuran raksasa untuk Brent kontrak Juni pada awal sesi.
Analis Price Futures Group, Phil Flynn, menilai para pelaku pasar mulai menyadari adanya reaksi yang terlalu berlebihan pada hari sebelumnya.
Manajer investasi atau hedge fund memutuskan untuk bergegas melepas posisi demi mengunci keuntungan di penghujung bulan.
Pelemahan nilai tukar mata uang dolar AS turut memberikan tekanan sistemik tambahan terhadap pergerakan harga komoditas ini.
Dinamika harian yang pergerakannya setara dengan fluktuasi bulanan membuat analis SEB Research, Ole Hvalbye, menyebut situasi saat ini sangat kacau untuk membentuk pandangan investasi fundamental.
Jalan Buntu Diplomasi dan Risiko Inflasi Mengintai
Tarik ulur geopolitik masih menjadi ancaman laten bagi stabilitas pasokan energi meskipun pasar sedang mengalami fase ambil untung teknikal.
Harga Brent telah terakumulasi melonjak hingga dua kali lipat sejak eskalasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran meletus.
Konflik bersenjata tersebut tercatat mulai memanas secara signifikan pada 28 Februari lalu.
Lonjakan fantastis sekitar 90 persen juga dicetak oleh minyak WTI akibat kebijakan penutupan efektif jalur perairan Selat Hormuz.
Blokade pada perairan strategis yang melayani sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia ini memicu ketakutan akan kebangkitan inflasi global.
Seorang pejabat AS melaporkan kepada Reuters bahwa Presiden Donald Trump dijadwalkan menerima pengarahan terkait rencana serangan militer baru.
Langkah militer ini dirancang guna memaksa Teheran kembali ke meja perundingan penghentian konflik.
Iran langsung merespons dengan ancaman serangan balasan yang panjang dan menyakitkan terhadap posisi AS jika operasi militer kembali dilancarkan.
Teheran juga dengan tegas mempertahankan klaim kendalinya atas Selat Hormuz.
Perundingan diplomasi menemui jalan buntu karena Washington bersikeras membahas program senjata nuklir.
Sebaliknya pihak Iran menuntut kendali penuh atas selat dan kompensasi atas kerusakan yang diakibatkan oleh peperangan.
Analis pasar IG, Tony Sycamore, memproyeksikan bahwa prospek penyelesaian konflik maupun pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat masih sangat suram.
Penurunan harga komoditas energi ini terindikasi murni sebagai penyesuaian teknikal di akhir bulan yang sangat wajar terjadi.
Pemodal harus waspada bahwa kebuntuan resolusi militer di Timur Tengah tetap menyimpan potensi gangguan pasokan terburuk yang dapat kembali mencekik stabilitas ekonomi global.
Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












