Geser Kebawah
HeadlinePasarSaham

IHSG Menguat 11 Poin, Saham Properti dan Non Primer Anjlok

143
×

IHSG Menguat 11 Poin, Saham Properti dan Non Primer Anjlok

Sebarkan artikel ini
ihsg menguat 11 poin saham properti dan non primer anjlok kompres
IHSG hari ini menguat 11,08 poin ke level 7.181,8. Namun, sektor properti dan saham non primer tertekan, sementara 7 saham cetak cuan besar hingga auto reject atas (ARA).

JAKARTA, BursaNusantara.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Selasa (21/1/2025) berhasil ditutup menguat sebesar 11,08 poin atau 0,15% ke level 7.181,8.

Kinerja ini mengindikasikan bahwa sentimen pasar masih positif, meski tidak semua sektor saham mencatatkan performa gemilang.

Sponsor
Iklan

Pada penutupan hari ini, total nilai transaksi mencapai Rp 12,6 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 19,3 miliar saham yang dilakukan dalam 1,3 juta kali transaksi.

Sektor Properti Tertekan, Infrastruktur Memimpin Penguatan

Sebanyak 238 saham tercatat naik, 345 saham turun, dan 232 saham stagnan. Meski IHSG secara keseluruhan menguat, mayoritas sektor justru menunjukkan tren melemah.

Penurunan terbesar terjadi di sektor properti yang terkoreksi hingga 0,8%, diikuti sektor barang konsumsi non primer yang turun 0,5%, sektor barang baku 0,45%, perindustrian 0,43%, teknologi 0,3%, energi 0,1%, dan transportasi 0,07%.

Sebaliknya, sektor infrastruktur menjadi primadona dengan kenaikan sebesar 1%. Penguatan juga dialami sektor kesehatan yang naik 0,6%, sektor keuangan 0,5%, dan sektor barang konsumsi primer sebesar 0,1%.

Tren penguatan sektor infrastruktur diperkirakan didukung oleh optimisme investor terhadap proyek strategis nasional yang terus berjalan meski situasi ekonomi global cenderung penuh tantangan.

Saham-Saham Anjlok Hingga 16,5%

Di tengah penguatan IHSG, sejumlah saham justru mengalami tekanan jual yang sangat tinggi. Sebanyak 9 saham dilaporkan anjlok dengan koreksi tajam antara 9% hingga 16,5%.

Berikut daftar saham yang mengalami penurunan signifikan:

  1. PT Krida Jaringan Nusantara Tbk (KJEN) turun 16,5% ke Rp 161.
  2. PT Trust Finance Indonesia Tbk (TRUS) terkoreksi 12,5% ke Rp 870.
  3. PT Utama Radar Cahaya Tbk (RCCC) melemah 9,6% ke Rp 197.
  4. PT Pudjiadi & Sons Tbk (PNSE) merosot 9,4% ke Rp 498.
  5. PT Victoria Investama Tbk (VICO) dan PT Bank Victoria International Tbk (BVIC) masing-masing terkoreksi 9,4% dan 9% ke Rp 230 dan Rp 101.
  6. PT Falmaco Nonwoven Industri Tbk (FLMC) melemah 9,3% ke Rp 97.
  7. PT Graha Prima Mentari Tbk (GRPM) turun 9% ke Rp 70.
  8. PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) turun 9% ke Rp 14.100.

Saham PANI dan VICO menarik perhatian karena keduanya terhubung dengan aksi korporasi besar. Bank Victoria Syariah, di mana VICO memegang 80,2% saham dan sisanya dimiliki oleh BVIC, direncanakan akan diakuisisi oleh PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN).

Sementara itu, saham PANI yang telah mencatat kenaikan ribuan persen kini mengalami tekanan, dengan koreksi mingguan mencapai 14,9%.

Saham-Saham ARA Berikan Cuan Besar

Di sisi lain, beberapa saham justru mencetak kenaikan fantastis dengan menembus batas auto reject atas (ARA). Berikut adalah daftar saham yang mencatatkan kenaikan tertinggi:

  1. PT Perma Plasindo Tbk (BINO) melonjak 34,3% ke Rp 176.
  2. PT Remala Abadi Tbk (DATA) melejit 24,9% ke Rp 1.530.
  3. PT Saraswanti Anugerah Makmur Tbk (SAMF) naik 24,8% ke Rp 1.030.
  4. PT Green Power Group Tbk (LABA) menguat 24,7% ke Rp 302.
  5. PT Mulia Boga Raya Tbk (KEJU) terdongkrak 24,3% ke Rp 740.

Selain itu, saham PT Link Net Tbk (LINK) mencatat kenaikan signifikan sebesar 23,7% ke Rp 1.485, sementara saham PT Steady Safe Tbk (SAFE) naik 21,1% ke Rp 252.

Kenaikan signifikan pada saham-saham ini memberikan peluang cuan besar bagi para investor, terutama yang mampu memanfaatkan momentum teknikal serta informasi terkini di pasar modal.

Kinerja IHSG hari ini mencerminkan dinamika pasar saham yang terus berfluktuasi. Meskipun sejumlah sektor mencatatkan pelemahan, penguatan sektor infrastruktur dan kesehatan berhasil menopang indeks secara keseluruhan.

Di sisi lain, saham-saham yang mencatatkan ARA menunjukkan bahwa potensi cuan besar masih terbuka bagi investor yang jeli. Namun, kehati-hatian tetap diperlukan mengingat volatilitas tinggi yang dapat berdampak pada portofolio investasi.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.