JAKARTA, BursaNusantara.com – Kinerja sektor penyediaan akomodasi dan makanan minuman (mamin) di kuartal I 2025 menunjukkan pelambatan signifikan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan sektor ini hanya mencapai 5,75% secara tahunan (year-on-year/YoY), melemah dibanding tren pertumbuhan tahun-tahun sebelumnya.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengungkapkan, perlambatan ini dipicu oleh kontraksi pada sub-sektor akomodasi yang tercatat minus 0,48% YoY.
Baca Juga: Tren Wisata 2025: Relaksasi dan Wisata Keluarga Dominasi
Tren Melambat Selama Empat Tahun Terakhir
Performa sektor ini menunjukkan tren penurunan dalam empat tahun terakhir. Pada kuartal I 2022, pertumbuhan berada di level 6,57% YoY.
Angka itu melonjak jadi 11,54% pada kuartal I 2023, namun turun ke 9,34% pada kuartal I 2024, dan akhirnya menyentuh titik 5,75% di awal 2025.
Amalia menjelaskan bahwa salah satu indikator pelemahan terjadi pada turunnya tingkat penghunian kamar (TPK) hotel, baik kategori bintang maupun non-bintang.
Hal ini menjadi cerminan langsung dari menurunnya permintaan jasa akomodasi sepanjang kuartal tersebut.
Baca Juga: Investor Asing Serbu SBN Pendek, Antisipasi Gejolak Global
Sektor Mamin Masih Tahan Banting
Meskipun sisi akomodasi mengalami tekanan, sub-sektor makanan dan minuman masih menunjukkan daya tahan.
Pada periode yang sama, lapangan usaha mamin berhasil tumbuh 7,21% YoY. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat untuk makanan dan minuman tetap kuat, bahkan di tengah tekanan ekonomi.
Pertambangan Juga Terkontraksi
Sektor pertambangan tak luput dari tekanan. BPS mencatat kontraksi 1,23% pada kuartal I 2025. Komoditas batu bara dan lignit turun 0,91% karena lemahnya permintaan global.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp16.455, Sentimen Asia Menguat
Tambahan tekanan datang dari sub-sektor logam, yang mencatat penurunan tajam sebesar 11,83%.
Amalia menjelaskan, kontraksi logam ini terjadi akibat kegiatan pemeliharaan besar di tambang tembaga dan emas yang berada di Papua Tengah.
Dengan tekanan beragam di berbagai sektor, arah pemulihan ekonomi nasional tampaknya memerlukan dorongan baru yang lebih terfokus dan adaptif terhadap perubahan pasar.











