Geser Kebawah
Ekonomi Makro

Keyakinan Konsumen RI Terendah Sejak 2022

65
×

Keyakinan Konsumen RI Terendah Sejak 2022

Sebarkan artikel ini
Keyakinan Konsumen RI Terendah Sejak 2022
Indeks Keyakinan Konsumen Mei 2025 turun ke 117,5, level terendah sejak 2022. Pemerintah siapkan insentif dorong belanja.

Konsumen Mulai Tahan Belanja, Optimisme Ekonomi Melemah

JAKARTA, BursaNusantara.com – Keyakinan konsumen Indonesia kembali melemah pada Mei 2025, menandai penurunan optimisme masyarakat terhadap kondisi dan prospek ekonomi nasional.

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dirilis Bank Indonesia menunjukkan angka 117,5 pada Mei. Angka ini lebih rendah dibanding April 2025 yang tercatat 121,7.

Sponsor
Iklan

Penurunan ini menempatkan IKK pada level terendah sejak September 2022, atau hampir tiga tahun terakhir.

Ketidakpastian Global Tekan Sentimen Domestik

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai situasi global masih penuh ketidakpastian. Hal ini menurutnya berdampak langsung terhadap optimisme ekonomi dalam negeri.

Ia menyebut tekanan global membuat masyarakat semakin selektif dalam mengatur pengeluaran. Pemerintah pun merespons dengan strategi untuk menggairahkan belanja publik.

Diskon belanja kembali akan digulirkan dalam momentum libur sekolah, sepanjang Juni dan Juli 2025. Insentif ini disiapkan melalui kerja sama antara pemerintah dan asosiasi ritel seperti HIPPINDO dan APRINDO.

Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat di tengah pelemahan optimisme ekonomi.

Komponen IKK Kompak Turun, Tapi Masih di Zona Optimis

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, penurunan IKK Mei bersumber dari dua faktor utama: persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dan harapan terhadap masa depan.

Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) turun dari 113,7 di April menjadi 106,0 di Mei. Sementara Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) turun dari 129,8 menjadi 129.

Meski menurun, IKK masih berada di atas angka 100. Ini berarti konsumen secara umum masih berada pada zona optimis terhadap ekonomi.

Denny menegaskan bahwa turunnya indeks tidak berarti pesimisme massal. Ia menyebut keyakinan konsumen tetap terjaga, meskipun berada dalam tekanan.

Tekanan Datang dari Semua Komponen Pembentuk

Data lebih rinci dari BI menunjukkan bahwa semua komponen IKE mengalami pelemahan pada Mei 2025.

Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) menurun dari 121,3 menjadi 118,1. Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (IPDG) turun dari 110,2 ke 104,1.

Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) tercatat 95,7, jauh lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang sebesar 100,3.

Penurunan ini memperlihatkan bahwa masyarakat mulai ragu dengan kondisi ekonomi aktual. Mereka merasa pendapatan stagnan dan kesempatan kerja makin terbatas.

Ekspektasi Pendapatan Masih Stabil, Tapi Harapan Jangka Panjang Menipis

Komponen IEK juga menunjukkan tren negatif, meskipun tidak separah IKE.

Indeks Ekspektasi Penghasilan (IEP) sedikit naik dari 123,5 menjadi 123,8. Namun, komponen lainnya menunjukkan kecenderungan menurun, membuat IEK secara keseluruhan tetap tertekan.

Ini mencerminkan bahwa meskipun konsumen masih berharap pendapatan membaik, mereka mulai kurang yakin akan stabilitas jangka panjang.

Tantangan bagi pemerintah adalah bagaimana menjaga ekspektasi ini tetap positif, agar konsumsi rumah tangga tidak terus melambat.

Dorongan Belanja Jadi Kunci Jaga Momentum Pemulihan

Menyadari kondisi tersebut, pemerintah mempercepat program-program yang mendukung konsumsi domestik.

Fokus diarahkan pada pelaksanaan program diskon dan promosi di sektor ritel, khususnya selama musim liburan sekolah pertengahan tahun.

Langkah ini diambil untuk menahan dampak lanjutan dari melemahnya keyakinan konsumen terhadap ekonomi.

Pemerintah juga terus memantau sentimen pasar dan menyiapkan kebijakan tambahan jika diperlukan.