BisnisPerdagangan & Industri

Kinerja DSSA: Laba Rp6,14 Triliun Turun, Ada Apa?

102
Kinerja DSSA Laba Rp6,14 Triliun Turun, Ada Apa
Waspadai penurunan laba bersih saat Kinerja DSSA ditopang ekspansi digital. Simak rincian laporan keuangan 2025 di sini!

Transformasi Portofolio Bisnis di Tengah Koreksi Keuangan

JAKARTA, BursaNusantara.com– Investor harus menyadari risiko koreksi valuasi saat Kinerja DSSA tertekan oleh penurunan pendapatan tahunan meski perusahaan agresif melakukan penetrasi infrastruktur digital.

Berdasarkan laporan audit per 31 Desember 2025, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk mencatatkan laba bersih sebesar USD361,20 juta.

Jumlah perolehan tersebut setara dengan Rp6,14 triliun dengan menggunakan asumsi kurs Rp17.000 per dolar AS.

Mengapa Penurunan Pendapatan Menekan Kinerja DSSA?

Pencapaian laba bersih tersebut mengalami penurunan sebesar 33,45 persen dibandingkan periode tahun 2024 yang tercatat sebesar USD542,78 juta.

Penurunan profitabilitas ini sejalan dengan menyusutnya pendapatan usaha perseroan sebesar 7,31 persen menjadi USD2,79 miliar dari sebelumnya USD3,01 miliar.

Melansir keterangan resmi pada Rabu (25/3/2026), Presiden Direktur DSSA L Krisnan Cahya menyatakan korporasi tetap mempertahankan operasi yang solid di tengah tantangan geopolitik global.

Manajemen menegaskan langkah transisi saat ini difokuskan pada penguatan portofolio yang responsif terhadap bauran energi bersih dan perkembangan teknologi.

Akankah Ekspansi Internet dan Pusat Data Menjadi Penopang?

Pendapatan segmen TV kabel, internet, dan layanan digital tercatat melonjak dari USD144,08 juta menjadi USD211,79 juta sepanjang 2025.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh ekspansi anak usaha PT Eka Mas Republik melalui MyRepublic Indonesia serta operasional pusat data PT SMPlus Sentra Data Persada.

Di sektor energi hijau, perusahaan mengoperasikan pabrik panel surya terintegrasi kapasitas 1 GW di KEK Kendal dan mengembangkan potensi panas bumi 440 MW melalui PT DSSR Daya Mas Sakti.

Eksplorasi sedang berlangsung di enam wilayah strategis meliputi Jawa Barat (Cisolok dan Cipanas), Sumatera, Flores, hingga Sulawesi Tengah untuk mengurangi ketergantungan fosil.

Neraca keuangan menunjukkan total aset perusahaan tumbuh menjadi USD4,41 miliar dari audit posisi tahun sebelumnya yang sebesar USD3,69 miliar.

Ekuitas perusahaan tercatat naik ke level USD2,26 miliar, sedangkan liabilitas meningkat menjadi USD2,15 miliar pada penutupan tahun 2025.

Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Memuat Grafik...
×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version