Anomali Klaim Pemerintah di Tengah Kerentanan Modal Asing
JAKARTA, BursaNusantara.com – Narasi bahwa mata uang Garuda terlalu murah (undervalued) perlahan mulai dipertanyakan ketika tren depresiasi jangka panjang justru terus menggerus nilai daya beli domestik.
Data perdagangan Selasa (28/4/2026) memperlihatkan sedikit anomali positif di tengah ketidakpastian global.
Kurs Rupiah Hari Ini berhasil ditutup dengan penguatan sebesar 57 poin.
Kenaikan yang setara dengan 0,33 persen ini memberikan sedikit kelonggaran bagi pelaku pasar valuta asing.
Apresiasi tersebut membawa nilai tukar rupiah parkir di level Rp17.229 per dolar AS.
Mitos Undervalued vs Realitas Depresiasi Dekade Terakhir
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyoroti pernyataan otoritas moneter yang sering mengklaim rupiah berada di bawah nilai wajarnya.
Klaim tersebut dinilai kehilangan relevansi jika melihat rekam jejak pelemahan mata uang nasional yang konsisten sejak tahun 2014.
Pada masa itu nilai tukar masih bertengger di kisaran Rp12.000 per USD.
Kini kondisi telah berbalik drastis dengan posisi mata uang yang terperosok hingga menyentuh level Rp17.000-an.
Indikator makro seperti inflasi yang terjaga memang solid, namun tidak cukup tangguh untuk menutupi kelemahan struktur industri domestik.
Ketergantungan pada aliran modal asing jangka pendek membuat ketahanan kurs kita mudah terguncang sentimen luar.
Besarnya arus keluar dari pembayaran dividen serta bunga semakin menegaskan bahwa pondasi stabilitas kurs saat ini masih sangat rapuh.
Penggunaan narasi undervalued seharusnya menjadi cambuk perbaikan fundamental ekonomi yang nyata, bukan sekadar alat komunikasi peredam gejolak sesaat.
Mengapa Geopolitik Selat Hormuz Menyandera Kebijakan The Fed?
Pendorong utama penguatan sesaat nilai tukar ini sangat dipengaruhi oleh dinamika global, khususnya kebuntuan konflik di Timur Tengah.
Washington bersikap sangat skeptis terhadap tawaran proposal terbaru Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Donald Trump dilaporkan enggan menyetujui proposal tersebut karena Teheran secara sengaja tidak menyentuh isu utama terkait program nuklirnya.
Kebuntuan diplomasi ini langsung mengancam pasokan energi global karena jalur pelayaran tersebut menyalurkan 20 persen kebutuhan minyak dan gas dunia.
Ancaman inflasi akibat krisis energi ini diperkirakan akan memaksa The Fed menahan suku bunga tinggi pada pertemuan pekan ini.
Bagi investor domestik, tertahannya suku bunga bank sentral AS akan menghambat pelebaran selisih imbal hasil investasi dan secara otomatis membatasi ruang penguatan rupiah lebih jauh.
Mempertimbangkan tekanan hawkish The Fed dan risiko geopolitik, Ibrahim memproyeksikan rupiah akan kembali bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya.
Batas bawah pergerakan mata uang garuda diprediksi akan menguji level Rp17.240 per USD.
Sementara batas atas pelemahan nilai tukar dapat meluas hingga mencapai kisaran Rp17.280 per USD.
Pelaku bisnis dan importir yang memiliki kewajiban valas dalam waktu dekat disarankan segera mengkaji ulang strategi lindung nilai (hedging) guna mengantisipasi pelemahan mendadak pasca rilis rapat bank sentral Amerika Serikat.
Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












