BCA Melesat, Bank BUKU 4 Lain Tertekan Kinerja
JAKARTA, BursaNusantara.com – Kinerja empat bank besar Indonesia dalam kelompok BUKU 4 menunjukkan ketimpangan performa sepanjang Januari hingga April 2025.
Meskipun secara agregat mencetak laba bersih sebesar Rp 57,28 triliun atau tumbuh 0,55% yoy, hanya satu bank yang mendominasi pertumbuhan: BCA.
Pencapaian total pendapatan bunga yang naik 4,60% yoy menjadi Rp 144,96 triliun tampak menjanjikan. Namun, beban bunga justru tumbuh lebih tinggi 8,23% yoy menjadi Rp 44,01 triliun, sehingga mengikis pertumbuhan pendapatan bunga bersih (NII) yang hanya naik tipis 0,09% yoy ke Rp 100,94 triliun.
Turunnya net interest margin (NIM) dari 5,22% pada April 2024 menjadi 5,07% pada April 2025 mengindikasikan tekanan profitabilitas yang dialami sebagian besar bank besar.
BBCA Unggul Jauh di Tengah Lesunya Industri
BCA menjadi satu-satunya bank yang menunjukkan pertumbuhan laba signifikan. Dalam empat bulan pertama 2025, bank ini mengantongi laba bersih sebesar Rp 20,21 triliun, melonjak 17,41% yoy. Kontribusinya mencapai 35,3% terhadap total laba kelompok BUKU 4.
Pendapatan bunga bersih BCA naik 6,58% yoy, didukung oleh pendapatan komisi yang meningkat 7,31% yoy. Beban pencadangan berhasil ditekan 8,66% yoy, menambah ruang ekspansi laba.
Pendapatan dividen menjadi pendorong tambahan, melonjak drastis 183,2% yoy menjadi Rp 2,18 triliun. Bahkan jika pendapatan dividen dikeluarkan, laba BCA tetap tumbuh impresif 9,64% yoy menjadi Rp 18,03 triliun.
BMRI Bertahan Lewat Efisiensi Kredit
Bank Mandiri mencatat laba bersih Rp 15,18 triliun, tumbuh terbatas 0,77% yoy. Tekanan datang dari perlambatan pendapatan bunga bersih dan penurunan pendapatan non bunga, terutama komisi.
Namun, efisiensi kredit berhasil dilakukan melalui penurunan beban provisi sebesar 8,84% yoy, membantu Bank Mandiri menjaga cost of credit (CoC) tetap rendah di kisaran 0,69–0,71%.
Stabilitas ini menjadi kunci bagi Mandiri mempertahankan performa walau tekanan dari sisi pendapatan masih membayangi.
BBRI Alami Koreksi, Tapi Tanda Pemulihan Muncul
Laba bersih BRI anjlok 15,77% yoy menjadi Rp 15,00 triliun hingga April 2025. Hal ini mencerminkan tekanan akibat pertumbuhan kredit yang stagnan dan penurunan pendapatan komisi.
Namun, jika ditarik secara bulanan, penurunan ini lebih landai dibanding awal tahun. Pada Januari, laba sempat terkoreksi hingga 58% yoy. Perbaikan perlahan terjadi pada NII yang hanya turun 1,00% yoy hingga April.
Pencadangan yang sebelumnya tinggi mulai berkurang. Biaya pencadangan makin terkendali, ditandai dengan stabilnya CoC BRI di angka 3,52%, memberi harapan bagi pemulihan kinerja di kuartal berikutnya.
BBNI Tumbuh Tipis, Laba April Anjlok Tajam
BNI mencatat laba Rp 6,87 triliun sepanjang empat bulan pertama tahun ini. Pertumbuhannya hanya 0,12% yoy, menunjukkan pelemahan dibanding Januari yang sempat mencatat kenaikan 9,73% yoy.
Tekanan signifikan terjadi di April, di mana laba bulanan BNI hanya Rp 1,49 triliun, terjun 28,31% dibanding Maret. Penurunan komisi dan mulai naiknya pencadangan menjadi pemicu utama.
Meski begitu, CoC BNI tetap rendah di level 0,90%. NIM juga bertahan stabil di 3,69%, menjadi bantalan bagi potensi pemulihan jika pendapatan non bunga membaik.
Tekanan Margin dan Beban Bunga Bayangi Industri
Meski secara nominal bank-bank BUKU 4 tetap mencetak laba besar, tren perlambatan mulai terasa. Pendapatan bunga tumbuh, tapi tak sebanding dengan lonjakan beban bunga.
Margin bunga bersih menyusut, mempersempit ruang profitabilitas.
Bank-bank dituntut untuk menjaga efisiensi, memaksimalkan pendapatan non bunga, serta mengatur pencadangan secara cermat.
Kinerja BCA menjadi contoh bagaimana diversifikasi pendapatan dan efisiensi risiko mampu menjaga profitabilitas tetap tinggi.
Sementara bank lain seperti BRI dan BNI perlu mengejar stabilitas pendapatan dan mengendalikan biaya agar tak tertinggal lebih jauh.
Persaingan antar bank besar kian ketat, dan hanya yang adaptif terhadap tekanan margin yang akan bertahan di puncak.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.











