Manuver Ekspor Sementara di Tengah Ketidakpastian Energi
Lonjakan Biaya Tambang 29 Persen Menjadi Risiko Tersembunyi?
Keberhasilan mencetak laba ratusan juta dolar ternyata dibayangi oleh pembengkakan beban operasional di lapangan yang menuntut efisiensi lanjutan.
Biaya penambangan per unit dilaporkan melonjak 29 persen secara tahunan dari USD2,53 per ton menjadi USD3,25 per ton.
Kenaikan ongkos ini didorong oleh jarak angkut material yang semakin panjang serta lonjakan harga bahan bakar global.
Manajemen mengakui adanya ancaman dari ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan biaya energi sejak bulan Maret.
Volume material yang ditambang perseroan sepanjang kuartal pertama ini mencapai total 56 juta ton.
Volume ekstraksi bijih segar mencatatkan lompatan drastis dari hanya 1 juta ton menjadi 38 juta ton.
Lompatan kuantitas ini sejalan dengan transisi area penambangan Fase 8 yang sebelumnya berfokus pada pengupasan batuan penutup kini beralih ke ekstraksi bijih segar.
Kualitas kadar tembaga yang diolah juga menanjak tajam menjadi 0,53 persen dibandingkan periode lalu di level 0,31 persen.
Kadar ekstraksi emas perseroan melonjak mengesankan dari 0,17 gram per ton menuju 0,54 gram per ton.
Total produksi konsentrat berhasil menembus 167.792 metrik ton kering, meroket 110 persen secara tahunan.
Produksi tembaga mencapai 101 juta pon dengan tingkat pertumbuhan 173 persen.
Tingkat produksi emas menyentuh angka 136.115 ons yang merepresentasikan lonjakan luar biasa sebesar 321 persen.
Mengukur Daya Tahan Smelter Menjelang Semester Kedua
Prioritas strategis manajemen saat ini terkunci pada upaya memastikan kinerja fasilitas peleburan berjalan stabil dan andal.
Perseroan memanfaatkan momentum diizinkannya ekspor konsentrat untuk melaksanakan program pemeliharaan smelter tahunan.
Waktu henti operasional akibat jadwal pemeliharaan ini membuat tingkat produksi smelter tertahan di bawah batas optimal.
Tingkat produksi katoda tembaga menyentuh 27.670 ton dengan utilisasi rata-rata fasilitas berada di kisaran 50 persen.
Produksi emas murni tercatat sebanyak 66.209 ons yang mewakili rata-rata produksi sebesar 46 persen.
Manajemen memastikan bahwa uji jaminan kinerja di beberapa area pemurnian utama tetap berada pada jalur penyelesaian untuk target bulan Juli 2026.
Proyek krusial seperti ekspansi pabrik konsentrator dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) diproyeksikan segera mendongkrak ketahanan efisiensi energi perusahaan.
Momentum pembalikan laba ini memberikan napas panjang bagi AMMN untuk menyelesaikan infrastruktur hilirisasi mereka di tengah tekanan biaya global.
Tantangan sesungguhnya bagi fundamental perseroan baru akan diuji pada kuartal mendatang ketika relaksasi keran ekspor konsentrat resmi ditutup secara penuh.
Investor diwajibkan untuk memantau progres integrasi fasilitas pemurnian pada pertengahan tahun sebagai indikator utama penentuan arah pergerakan harga saham emiten.
Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












