BisnisEnergi

Laba Bersih UNTR Q1-2026 Terjun Bebas 80 Persen, Ini Biang Keroknya

30
Laba UNTR Q1-2026 Anjlok 80%, Imbas Tambang Emas
Laba bersih UNTR anjlok 80% menjadi Rp643 miliar di Q1-2026. Penurunan dipicu terhentinya operasional tambang emas Martabe dan revisi RKAB batu bara.

Laba UNTR Q1-2026 Anjlok 80%, Imbas Tambang Emas

JAKARTA, BursaNusantara.com – Kabar kurang menggembirakan datang dari emiten tambang terintegrasi Grup Astra, PT United Tractors Tbk (UNTR). Kinerja perseroan mengalami tekanan berat pada tiga bulan pertama tahun 2026.

Berdasarkan keterangan resmi Kamis (30/4/2026), UNTR mencatatkan laba bersih sebesar Rp643 miliar. Angka ini menunjukkan penurunan drastis hingga 80 persen secara tahunan (year-on-year/YoY).

Merosotnya laba ini sejalan dengan pendapatan bersih UNTR yang juga terkoreksi 17 persen, turun dari Rp34,3 triliun menjadi Rp28,5 triliun pada kuartal pertama tahun ini.

Tambang Emas Martabe Lumpuh Imbas Bencana

Faktor utama yang menggerus profitabilitas perseroan adalah penurunan signifikan kontribusi dari PT Agincourt Resources, anak usaha yang mengoperasikan tambang emas Martabe.

Tambang emas andalan tersebut terpaksa menghentikan operasionalnya pada awal tahun 2026 akibat bencana yang melanda wilayah Sumatera. Dampaknya sangat fatal, perseroan nyaris tidak menjual emas sama sekali pada kuartal I-2026.

Tercatat, volume penjualan emas anjlok 93 persen dan hanya menyentuh angka 4 ribu ons. Akibatnya, pendapatan dari segmen Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya terjun bebas 76 persen menjadi hanya Rp692 miliar.

Selain emas, tekanan juga datang dari penyusutan alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional tahun 2026. Kebijakan ini memukul langsung bisnis Mesin Konstruksi dan Kontraktor penambangan UNTR.

Rincian Kinerja Sektoral dan Beban Non-Recurring

Secara rinci, pelemahan kinerja UNTR terlihat di hampir seluruh segmen bisnis utama, kecuali pertambangan batu bara:

  • Segmen Mesin Konstruksi: Anjlok tajam hingga 31 persen menjadi Rp7,5 triliun.
  • Segmen Kontraktor Penambangan: Mengalami koreksi sebesar 6 persen menjadi Rp11,9 triliun.
  • Segmen Pertambangan Batu Bara dan Metalurgi: Berhasil tumbuh 13 persen menjadi Rp8 triliun, tertolong oleh harga acuan batu bara yang masih tinggi di pasaran.

Di luar faktor operasional, UNTR juga harus menanggung beban non-berulang (non-recurring charges) yang cukup masif senilai Rp1,2 triliun.

Beban ini mayoritas berasal dari pembayaran kompensasi penambangan di kawasan hutan untuk tambang nikel Stargate, serta pencadangan provisi atas penurunan nilai investasi panas bumi pada PT Supreme Energy Rantau Dedap.

Secercah Harapan Menuju Kuartal Kedua

Meski kuartal pertama berjalan sangat berat, perseroan masih memiliki katalis positif untuk perbaikan kinerja ke depan. Penurunan pendapatan berhasil ditahan sebagian oleh tingginya harga jual batu bara.

Selain itu, sentimen positif mulai terlihat pada segmen emas. Sejak Maret 2026, operasional tambang emas Martabe dikabarkan telah mendapatkan restu dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk kembali beraktivitas, yang diharapkan mampu mendongkrak pemulihan pendapatan perseroan di kuartal-kuartal berikutnya.

Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Memuat Grafik...
×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version