JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI/BRIS) mencatatkan awal tahun yang impresif. Dalam dua bulan pertama 2025, bank syariah terbesar di Indonesia ini berhasil menorehkan laba bersih sebesar Rp 1,16 triliun.
Angka tersebut meningkat sekitar 10% secara tahunan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2024.
Pencapaian tersebut bahkan melampaui laju pertumbuhan laba bank-bank milik negara lainnya, menegaskan posisi BSI sebagai motor penggerak utama sektor keuangan syariah nasional.
Baca Juga: Bedah Emiten BRIS: Bank Syariah Indonesia yang Siap Mendunia
Meski demikian, jika dibandingkan dengan pertumbuhan di bulan Januari 2025 yang mencapai 15% yoy, terlihat adanya perlambatan pada bulan berikutnya.
Pendapatan dan Fee Berbasis Komisi Menguat
Sepanjang Januari hingga Februari 2025, pendapatan setelah distribusi bagi hasil BSI tercatat sebesar Rp 3,01 triliun. Angka ini menunjukkan peningkatan dari periode yang sama tahun sebelumnya yang senilai Rp 2,79 triliun.
Selain itu, pendapatan berbasis komisi atau fee-based income juga menunjukkan kinerja gemilang. Bank berkode saham BRIS ini mencetak kenaikan signifikan sebesar 71,05% yoy menjadi Rp 516,73 miliar.
Baca Juga: Laba BSI Tumbuh 10% di Februari 2025, Kinerja Solid
Pertumbuhan ini menjadi sinyal positif atas perluasan lini layanan dan digitalisasi yang terus dijalankan perseroan.
Namun demikian, BSI juga mencatatkan kenaikan pada sisi beban provisi. Sepanjang dua bulan pertama 2025, beban provisi bank ini meningkat 26,62% yoy menjadi Rp 487,25 miliar. Kondisi ini mencerminkan upaya kehati-hatian manajemen dalam mengantisipasi risiko pembiayaan ke depan.
Penyaluran Pembiayaan dan DPK Terus Tumbuh
Dalam menjalankan fungsi intermediasinya, BSI telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 282,05 triliun hingga akhir Februari 2025. Jika dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 241,73 triliun, terjadi lonjakan pembiayaan hingga lebih dari 16%.
Baca Juga: Tren Harga Emas Meningkat, BSI Dorong Literasi dan Layanan Investasi
Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun BSI juga mengalami pertumbuhan. Total DPK per Februari 2025 mencapai Rp 318,99 triliun, atau tumbuh sekitar 10% yoy. Hal ini mengindikasikan kepercayaan masyarakat terhadap layanan perbankan syariah BSI tetap terjaga kuat.
Saham BRIS Masih Terkoreksi
Di tengah pencapaian kinerja fundamental yang positif, pergerakan harga saham BRIS justru belum mencerminkan euforia pasar. Saham BSI terkoreksi hingga 14,29% secara year to date dan kini bertengger di level Rp 2.340 per saham.
Koreksi ini memunculkan spekulasi pasar terkait valuasi dan ekspektasi profit taking jangka pendek, namun tetap menyisakan ruang optimisme jangka menengah jika tren pertumbuhan fundamental konsisten berlanjut.









