JAKARTA, BursaNusantara.com – Pasar modal Indonesia kembali menyoroti aksi korporasi para konglomerat yang mendominasi kinerja emiten terkemuka sepanjang 2024. Salah satu yang menjadi sorotan utama adalah emiten di bawah kendali Prajogo Pangestu, orang terkaya nomor satu di Indonesia. Kinerja sahamnya memancarkan sinyal kuat bagi para investor, meskipun beberapa di antaranya mengalami fluktuasi tajam.
Aksi Korporasi Emiten Prajogo Pangestu
PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), melalui anak usahanya PT Kreasi Jasa Persada, meningkatkan kepemilikan di PT Petrosea Tbk (PTRO) sebesar 7,5% pada Juni 2024. Transaksi senilai Rp 207,9 miliar ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat posisi PTRO. Selain itu, rencana stock split dengan rasio 1:10 di Desember 2024 diharapkan dapat meningkatkan likuiditas saham PTRO di pasar.
Di sektor energi terbarukan, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mencatatkan pencapaian dengan masuk ke indeks FTSE Global Equity Series – Large Cap pada September 2024. Namun, indeks ini kemudian mengeluarkan BREN akibat tingginya konsentrasi kepemilikan saham.
Sementara itu, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mencatat langkah besar dengan joint venture bersama Glencore Plc untuk mengakuisisi Shell Energy and Chemicals Park Singapore dari Shell Singapore Pte Ltd. Langkah ini membawa TPIA masuk dalam MSCI Global Standard Indexes, memperkuat posisinya sebagai salah satu emiten unggulan.
Lonjakan Saham Emiten Unggulan
Menurut Stockbit Sekuritas, aksi korporasi ini berhasil mendongkrak harga saham emiten Prajogo Pangestu secara signifikan.
- PTRO mencatatkan lonjakan harga saham hingga 426,1% dalam setahun ke Rp 27.625.
- BREN naik 24% menjadi Rp 9.275.
- TPIA melonjak 42,8% ke Rp 7.500.
Namun, tidak semua saham mengalami tren positif. Saham CUAN turun 17,1% ke Rp 11.125, sementara PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melemah 30,7% ke Rp 920.
Kebangkitan Konglomerat dan Peluang M&A
Menurut BRI Danareksa Sekuritas, dominasi konglomerat di pasar modal Indonesia membuka jalan untuk lebih banyak aktivitas merger dan akuisisi (M&A). Kapitalisasi pasar emiten konglomerat meningkat drastis 196% menjadi US$ 277 miliar (Rp 4.475 triliun) pada 2024, mencakup 36% dari total kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia.
Grup usaha seperti Adaro, Astra, Sinar Mas, dan Barito berada di garis depan dalam memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ini. Nama-nama besar seperti Garibaldi Thohir, Anthoni Salim, dan Prajogo Pangestu semakin memperkokoh pengaruhnya di pasar modal.
Peluang dan Tantangan
Aksi korporasi yang agresif membawa peluang besar bagi para investor. Namun, investor tetap harus berhati-hati terhadap risiko fluktuasi pasar dan tantangan yang dihadapi beberapa emiten, seperti konsentrasi kepemilikan saham dan kondisi makroekonomi global.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.











