Proyek Migas Baru Jadi Awal Positif, Namun Target Swasembada Masih Jauh
JAKARTA, BursaNusantara.com – Pemerintah Indonesia meresmikan sejumlah proyek migas dalam dua bulan terakhir sebagai bagian dari upaya jangka panjang menuju swasembada energi.
Meski diapresiasi, sejumlah pakar menilai langkah ini belum cukup menopang ambisi energi nasional yang ditargetkan mencapai produksi minyak 1 juta barel per hari (bopd) pada 2030.
Presiden Prabowo Subianto secara virtual meresmikan produksi perdana Lapangan Forel dan Terubuk yang terletak di Wilayah Kerja (WK) South Natuna Sea Block B, Kepulauan Riau, Jumat (16/5).
Produksi gabungan dua lapangan ini diproyeksikan mencapai 30.000 barrel oil equivalent per day (BOEPD).
Baca Juga: Dua Lapangan Minyak Natuna Siap Diresmikan ESDM
Sebulan sebelumnya, Lapangan Akatara di Jambi yang dikelola oleh Jadestone Energy juga mulai beroperasi dengan output gas sekitar 25,7 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), setara 6.600 BOEPD.
Proyek ini disebut-sebut mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG nasional yang saat ini mencapai 6 juta ton per tahun.
Apresiasi terhadap Langkah Awal
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa proyek-proyek ini menunjukkan kapasitas nasional dalam mengelola dan membangun infrastruktur migas dengan tingkat kandungan dalam negeri yang tinggi. Bahkan kapal FPSO yang digunakan di proyek Natuna disebut sepenuhnya dibuat di Indonesia.
“Proyek ini milik anak-anak negeri. Mulai dari pekerja sampai infrastruktur, semuanya 100% lokal,” ujar Bahlil dalam laporannya.
Baca Juga: Harumnya Kopi Nusantara, Tradisi dan Identitas Budaya










