Geser Kebawah
BisnisEkonomi Makro

Lapangan Migas Baru Diapresiasi tapi Belum Cukup

80
×

Lapangan Migas Baru Diapresiasi tapi Belum Cukup

Sebarkan artikel ini
Lapangan Migas Baru Diapresiasi tapi Belum Cukup
Pemerintah meresmikan proyek migas baru di Natuna dan Jambi. Meski jadi langkah positif, para pakar menilai belum cukup dukung swasembada energi nasional.

Proyek Migas Baru Jadi Awal Positif, Namun Target Swasembada Masih Jauh

JAKARTA, BursaNusantara.com – Pemerintah Indonesia meresmikan sejumlah proyek migas dalam dua bulan terakhir sebagai bagian dari upaya jangka panjang menuju swasembada energi.

Meski diapresiasi, sejumlah pakar menilai langkah ini belum cukup menopang ambisi energi nasional yang ditargetkan mencapai produksi minyak 1 juta barel per hari (bopd) pada 2030.

Sponsor
Iklan

Presiden Prabowo Subianto secara virtual meresmikan produksi perdana Lapangan Forel dan Terubuk yang terletak di Wilayah Kerja (WK) South Natuna Sea Block B, Kepulauan Riau, Jumat (16/5).

Produksi gabungan dua lapangan ini diproyeksikan mencapai 30.000 barrel oil equivalent per day (BOEPD).

Baca Juga: Dua Lapangan Minyak Natuna Siap Diresmikan ESDM

Sebulan sebelumnya, Lapangan Akatara di Jambi yang dikelola oleh Jadestone Energy juga mulai beroperasi dengan output gas sekitar 25,7 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), setara 6.600 BOEPD.

Proyek ini disebut-sebut mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG nasional yang saat ini mencapai 6 juta ton per tahun.

Apresiasi terhadap Langkah Awal

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa proyek-proyek ini menunjukkan kapasitas nasional dalam mengelola dan membangun infrastruktur migas dengan tingkat kandungan dalam negeri yang tinggi. Bahkan kapal FPSO yang digunakan di proyek Natuna disebut sepenuhnya dibuat di Indonesia.

“Proyek ini milik anak-anak negeri. Mulai dari pekerja sampai infrastruktur, semuanya 100% lokal,” ujar Bahlil dalam laporannya.

Baca Juga: Harumnya Kopi Nusantara, Tradisi dan Identitas Budaya