Kedua pabrik tersebut diharapkan mulai produksi pada paruh pertama tahun 2025, sehingga memperkuat posisi MBMA dalam industri baterai global.
Implikasi Strategis dan Dampak Ekonomi
Meningkatkan Nilai Tambah dan Ekspor Bahan Baku Baterai
Dengan peningkatan kapasitas produksi dan optimalisasi pengolahan nikel, proyek HPAL SLNC diharapkan dapat memberikan nilai tambah yang signifikan bagi industri baterai.
“MBMA terus memperkuat posisinya dalam rantai pasok global untuk industri baterai, sekaligus mendukung peran Indonesia sebagai pusat produksi bahan baku baterai kendaraan listrik,” tandas Teddy Oetomo.
Proyek ini juga akan meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global dan mendorong pertumbuhan ekspor bahan baku baterai, yang berperan penting dalam transisi energi menuju kendaraan listrik.
Dampak terhadap Industri dan Investasi Nasional
Investasi sebesar US$1,8 miliar ini tidak hanya mendongkrak kapasitas produksi, tetapi juga membuka peluang bagi kerja sama strategis dengan investor internasional.
Proyek HPAL SLNC akan mendukung kebijakan hilirisasi pemerintah Indonesia, sekaligus meningkatkan kontribusi sektor pertambangan terhadap PDB nasional.
Dalam jangka panjang, inisiatif ini diharapkan mengurangi ketergantungan impor dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja serta peningkatan nilai tambah produk ekspor.
Tantangan dan Strategi Pengelolaan Risiko
Meskipun prospek proyek sangat menjanjikan, tantangan dalam pengelolaan izin, pendanaan, dan koordinasi antar lembaga tetap ada.
MBMA harus memastikan seluruh proses perizinan dan persetujuan dari pemerintah berjalan lancar, serta mengelola risiko operasional dengan sistem pengawasan yang ketat.
Kerja sama dengan perbankan dalam hal pendanaan juga menjadi kunci, mengingat fluktuasi harga komoditas global yang dapat mempengaruhi profitabilitas.
Harapan dan Langkah Ke Depan
Peluncuran pabrik HPAL SLNC merupakan salah satu langkah strategis MBMA dalam mendukung transformasi industri baterai global.
Dengan investasi gabungan yang besar dan dukungan infrastruktur yang kuat, proyek ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi nikel menjadi MHP, tetapi juga mengoptimalkan rantai pasok industri baterai di Indonesia.
Melalui kemitraan strategis dengan PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC), PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM), dan kerjasama dengan GEM Co., Ltd., MBMA berupaya memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat produksi bahan baku baterai kendaraan listrik di kancah global.
Presiden Direktur Merdeka Battery Materials, Teddy Oetomo, menegaskan komitmen perusahaan untuk terus berinovasi dan bertransformasi. “Proyek HPAL SLNC adalah inisiatif strategis untuk memaksimalkan nilai sumber daya nikel kami yang berlimpah dan meningkatkan kapasitas produksi tahunan MHP lebih dari dua kali lipat,” ujarnya.
Langkah ini menjadi tonggak penting dalam mendukung kebijakan hilirisasi dan membuka peluang investasi baru, serta diharapkan dapat membawa dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional dan industri baterai global.








