Estimasi Waktu Baca: 0 menit
Mentan Soroti Kejanggalan Data Stok Beras Cipinang
JAKARTA, BursaNusantara.com – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkap dugaan adanya mafia beras yang bermain di balik kenaikan harga beras. Padahal, produksi nasional saat ini sedang melimpah.
Daftar isi
Amran menilai adanya kejanggalan serius pada data stok beras yang menyebabkan harga merangkak naik, khususnya di Pasar Beras Induk Cipinang (PBIC).
Data Resmi Tidak Selaras dengan Realita Pasar
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), harga beras secara bulanan tercatat mengalami penurunan dari Maret ke April 2025. Namun kondisi di lapangan menunjukkan anomali yang mencurigakan.
Amran mempertanyakan kenapa justru harga beras naik dengan alasan stok beras menipis di PBIC. Padahal, produksi sedang tinggi.
Menurutnya, ketidaksinkronan antara data BPS dan data PBIC menunjukkan potensi manipulasi yang disengaja oleh pihak tertentu.
Kejanggalan Besar dalam Pengeluaran Stok Beras
Amran membandingkan data stok beras sejak tahun 2020, yang menunjukkan tren stabil di kisaran 30 ribu ton, dan bahkan melonjak ke angka 50 ribu ton di Januari 2025. Lonjakan ini terjadi seiring naiknya produksi.
Namun, pada 28 Mei 2025, PBIC mencatat pengeluaran mendadak sebesar 11.410 ton hanya dalam sehari. Angka ini sangat jomplang dibandingkan pengeluaran harian sebelumnya yang berkisar 1.000 hingga 4.000 ton.
Ia menyebut angka tersebut tidak masuk akal dan perlu diusut. Keanehan ini tidak bisa dilepaskan dari indikasi adanya pihak ketiga yang bermain di balik pasar.
Sinyal Kuat Peran Mafia Beras
Amran menyebut kejadian ini sebagai sabotase data dan perbuatan yang merugikan pemerintah serta petani. Ia menegaskan bahwa ada middle man yang mempermainkan stok dan harga beras demi keuntungan pribadi.
“Ini lah yang kita sebut sebagai mafia. Jangan mempermainkan petani dan negara,” tegas Amran dengan nada kecewa.
Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bagi penegak hukum dan publik untuk menyelidiki aktor di balik ketimpangan data stok dan gejolak harga beras nasional.












