JAKARTA, BursaNusantara.com – Holding BUMN MIND ID memperkuat langkah strategisnya dalam ketahanan energi nasional lewat PLTU mulut tambang di Sumatera Selatan.
Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, meninjau langsung PLTU Sumsel-8 atau PLTU Tanjung Lalang.
Pembangkit ini dikelola oleh PT Huadian Bukit Asam Power (HBAP), hasil kolaborasi PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan China Huadian Group.
Baca Juga: Kinerja Emiten MIND ID 2024 Merosot, Dividen Masih Menarik
PLTU Tanjung Lalang Disiapkan untuk Pasok Listrik Sumatera
Target Utilisasi Maksimal
PLTU ini memiliki kapasitas terpasang 2 x 660 megawatt (MW).
Namun saat ini, tingkat operasinya baru mencapai 50%.
MIND ID menargetkan PLTU ini jadi tulang punggung pasokan listrik Pulau Sumatera.
Kolaborasi Internasional jadi Senjata Utama
Menurut Maroef, kolaborasi antara PTBA dan Huadian Group merupakan kunci utama dalam mengoptimalkan kapasitas pembangkit.
Baca Juga: PT Bukit Asam Tbk (PTBA): Fokus pada Transformasi Energi dan Strategi Pertumbuhan Berkelanjutan
Ia percaya sinergi ini bisa mewujudkan target besar yang diusung MIND ID.
Energi Batu Bara dengan Teknologi Ramah Lingkungan
Fasilitas FGD Jadi Pembeda
PLTU Tanjung Lalang mengusung teknologi Flue Gas Desulfurization (FGD).
Teknologi ini mampu menekan emisi gas buang di bawah ambang batas yang ditetapkan pemerintah.
Salah Satu PLTU Batu Bara Terbersih di Asia Tenggara
Maroef menyebut PLTU Sumsel-8 sebagai salah satu pembangkit batu bara paling ramah lingkungan di kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga: Pendapatan PT Bukit Asam Melonjak 11,1%, Laba Terkoreksi
Ia menegaskan bahwa aspek keberlanjutan menjadi fokus utama operasional PLTU ini.
Arah Hilirisasi Energi dan Pengelolaan Batu Bara
Sumber Daya Nasional Dioptimalkan
Melalui PTBA, MIND ID mengelola total sumber daya batu bara sebesar 5,8 miliar ton.
Dari jumlah itu, cadangan yang siap ditambang mencapai 2,9 miliar ton.
Baca Juga: MIND ID Percepat Proyek SGAR Fase II, Target Operasi 2025
Tidak Hanya untuk Listrik
Cadangan batu bara tersebut akan dimanfaatkan bukan hanya untuk ketenagalistrikan.
Tapi juga untuk mendukung program hilirisasi yang dapat menciptakan nilai tambah bagi industri energi nasional.












