JAKARTA, BursaNusantara.com – Perjalanan pasar obligasi korporasi Indonesia sepanjang awal 2025 menunjukkan ketahanan yang mencolok, meskipun sempat diuji oleh tekanan eksternal dari dinamika kebijakan perdagangan Amerika Serikat.
Penundaan kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump selama 90 hari menjadi momentum kebangkitan bagi pasar surat utang domestik.
Pasca pengumuman tarif tersebut, kinerja pasar obligasi korporasi sempat mengalami perlambatan. Indeks Indonesia Corporate Bond Index (ICBI) tercatat bergerak datar bahkan terkoreksi ringan pada awal April. Namun rebound terjadi dengan cepat seiring tertundanya implementasi kebijakan tersebut.
Fixed Income Analyst Pefindo, Ahmad Nasrudin, menjelaskan bahwa penguatan mulai terasa kembali sejak minggu pertama Mei.
Baca Juga: Strategi Hadapi Tantangan Kredit Korporasi di Tengah Ketidakpastian 2025
“Setelah adanya jeda 90 hari, pelaku pasar kembali percaya diri, dan minat terhadap surat utang korporasi menguat,” ujarnya.
Investor Institusi Jadi Motor Penggerak
Yang mencolok dalam periode ini adalah peran investor institusi, terutama manajer investasi yang menjadikan surat utang korporasi sebagai bagian strategis dalam portofolio reksadana mereka.
Menurut Ahmad, kenaikan kepemilikan terbesar dicatat oleh sektor reksadana sebesar Rp 5,29 triliun sejak Desember 2024 hingga April 2025. Disusul sektor perbankan yang menambah kepemilikan hingga Rp 2,87 triliun dan asuransi sebesar Rp 2,59 triliun.
Kuatnya partisipasi institusi menunjukkan kepercayaan pasar terhadap stabilitas korporasi penerbit. Ahmad menekankan bahwa hingga April 2025, peringkat mayoritas perusahaan penerbit masih tergolong stabil. Risiko gagal bayar juga belum menunjukkan peningkatan signifikan.
Baca Juga: Bitcoin Melemah di Tengah Kekhawatiran Suku Bunga AS
Penerbitan Menanjak, Tertinggi dalam Tiga Tahun
Sepanjang April 2025 saja, total penerbitan obligasi korporasi mencapai Rp 8,87 triliun. Secara kumulatif dari awal tahun, jumlah tersebut telah menyentuh Rp 55,62 triliun melonjak 42,55% secara tahunan. Ini menjadi rekor penerbitan tertinggi sejak tahun pandemi berakhir.
Ahmad memproyeksikan tren ini akan terus berlanjut hingga akhir 2025. “Kebutuhan refinancing dan pembiayaan modal kerja akan menjadi pemicu utama, apalagi mengingat ada obligasi jatuh tempo sebesar Rp 161,21 triliun tahun ini,” jelasnya.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa dampak nyata dari kebijakan perdagangan AS baru akan terasa beberapa bulan mendatang. “Efek penuh dari tarif belum menjalar ke pasar. Ketika masa penangguhan usai, barulah pasar akan menghadapi tekanan sebenarnya,” tegas Ahmad.
Baca Juga: Revitalisasi 4.615 Koperasi, Kopdes Merah Putih Siap Diluncurkan
Faktor Risiko Tetap Mengintai
Di tengah optimisme tersebut, pelaku pasar tetap diimbau untuk waspada. Ahmad menilai bahwa sejumlah risiko eksternal masih mengintai.
Ketegangan perang dagang berisiko menekan pertumbuhan global dan volume perdagangan. Ini bisa berdampak langsung pada perusahaan yang memiliki eksposur internasional, baik dari sisi bahan baku, pendapatan, maupun pembiayaan.
Dari dalam negeri, laju pertumbuhan ekonomi yang lemah turut menjadi sentimen negatif. Lemahnya permintaan domestik akan berimbas pada turunnya pendapatan dan profitabilitas korporasi, yang bisa memperbesar risiko kredit dalam jangka menengah.
Baca Juga: Raffi Ahmad 2025: Kontroversi, Kekayaan & Utang Terkuak
Sektor Aman dan Sektor Rawan
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, turut menyoroti pentingnya seleksi sektor dalam berinvestasi di surat utang korporasi. Ia menyebut bahwa risiko gagal bayar bisa sangat sektoral sifatnya.
“Dengan tekanan pada konsumsi masyarakat, sektor properti mungkin perlu dihindari. Konsumen cenderung menahan pembelian barang sekunder di tengah daya beli yang menurun,” katanya.
Sebaliknya, sektor perbankan dan infrastruktur seperti Jasa Marga atau perusahaan telekomunikasi nasional dinilai masih menjanjikan karena model bisnis yang cenderung defensif dan pendapatan yang stabil.
Baca Juga: Hotel Bandung Tertekan Efisiensi, Kerugian Miliaran Rupiah
Nico juga menekankan pentingnya mengkaji rasio keuangan dan kondisi fundamental korporasi sebelum memutuskan berinvestasi dalam obligasi. “Bahkan emiten besar pun bisa berisiko jika tidak dikelola hati-hati,” ujarnya.
Suku Bunga Turun, Daya Tarik Naik
Sentimen tambahan yang mendukung optimisme pasar datang dari kemungkinan penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia tahun ini. Jika kebijakan moneter longgar diambil, maka imbal hasil obligasi korporasi akan menjadi makin menarik.
Penurunan suku bunga akan mendorong biaya dana yang lebih murah bagi perusahaan, sehingga penerbitan obligasi bisa meningkat. Sementara dari sisi investor, surat utang akan menjadi instrumen dengan yield lebih kompetitif di tengah kondisi bunga rendah.
Dengan lanskap yang dinamis, para pelaku pasar kini berada di tengah persimpangan antara kehati-hatian dan peluang. Namun satu hal yang pasti obligasi korporasi tetap menjadi instrumen strategis dalam menghadapi iklim ketidakpastian global dan domestik yang belum mereda.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












