JAKARTA, BursaNusantara.com – Coca-Cola Europacific Partners Indonesia (CCEP Indonesia) kembali menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan energi terbarukan dengan meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di kawasan Mega Distribution Center dan Pabrik PSD Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, pada Selasa (21/1/2025).
Langkah ini sejalan dengan inisiatif global RE100 yang bertujuan mencapai penggunaan 100% energi terbarukan pada tahun 2030.
PLTS Atap ini memiliki kapasitas 2,4 Mega Watt peak (MWp) dan mampu mengurangi penggunaan energi berbasis fosil hingga 7%.
Direktur Public Affairs, Communications, and Sustainability CCEP Indonesia, Lucia Karina, menjelaskan bahwa instalasi PLTS Atap ini mencakup area seluas 27.967 meter persegi dan berpotensi mengurangi emisi karbon hingga sekitar 2 juta kilogram CO2 setiap tahunnya.
“Melalui kerangka keberlanjutan ‘This is Forward’, kami menargetkan net zero emission pada 2040 dengan pengurangan emisi sebesar 30% pada 2030 dibandingkan tahun 2019. Instalasi PLTS Atap di Pasuruan merupakan langkah nyata mendukung transisi energi nasional,” ujar Lucia.
Kontribusi Jawa Timur dalam Transisi Energi Nasional
Pj Bupati Pasuruan, Nurkholis, menyatakan bahwa Jawa Timur memainkan peran strategis dalam mendukung target energi bersih nasional.
Dengan potensi energi surya mencapai 176.390 MW, provinsi ini berkomitmen meningkatkan bauran Energi Baru dan Terbarukan (EBT) hingga 12,5% pada 2025.
“Transformasi menuju kawasan industri rendah karbon diharapkan tidak hanya mempercepat pencapaian target energi bersih, tetapi juga menciptakan peluang pertumbuhan ekonomi baru,” ungkap Nurkholis.
Langkah Berkelanjutan CCEP Indonesia
Selain PLTS Atap di Pasuruan, CCEP Indonesia telah mengoperasikan dua PLTS Atap lainnya, yaitu di Semarang dengan kapasitas 1,7 MWp dan di Bekasi sebesar 7,134 MWp.
Total investasi di Bekasi mencapai US$ 5,8 juta dan telah berhasil mengurangi emisi karbon hingga 7 juta kilogram CO2 per tahun. Langkah ini menjadikan Bekasi sebagai PLTS Atap terbesar di Asia Tenggara.
Selain investasi di sektor PLTS, CCEP Indonesia juga telah menerapkan inovasi lainnya, seperti pengadaan 200 ribu lemari pendingin hemat energi yang mampu menghemat hingga 178 juta kWh per tahun, serta konversi bahan bakar dari solar ke gas alam dan LNG untuk kebutuhan pemanas, pembangkit listrik, dan forklift sejak tahun 2008.
Namun, tantangan masih tetap ada, terutama dalam perizinan dan besarnya nilai investasi. Lucia menyebutkan bahwa solar panel berkualitas tinggi untuk skala besar masih sulit ditemukan di pasar domestik sehingga harus mengandalkan impor.
“Ke depannya, kami juga mempertimbangkan pembangunan PLTS Atap baru dengan memperhatikan berbagai faktor, seperti konstruksi atap, proses perizinan, dan ketersediaan pemasok solar panel yang andal,” tambahnya.
Dukungan Pemerintah dan Dampaknya
Pemerintah Kabupaten Pasuruan dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah memberikan dukungan yang signifikan dalam percepatan perizinan untuk proyek ini. Langkah ini mencerminkan sinergi antara sektor swasta dan pemerintah dalam mendukung transisi energi nasional.
Transformasi menuju energi terbarukan seperti ini tidak hanya memberikan manfaat lingkungan tetapi juga memperkuat daya saing industri lokal di pasar global.
Dengan langkah ini, CCEP Indonesia tidak hanya mendukung agenda transisi energi nasional tetapi juga memperkokoh posisinya sebagai pemimpin dalam keberlanjutan di sektor industri minuman. Upaya ini menjadi teladan bagi perusahaan lain untuk berkontribusi dalam pengembangan energi terbarukan.











