Geser Kebawah
Internasional

Prabowo Bidik Modal US$ 16 Triliun Lewat Danantara

45
×

Prabowo Bidik Modal US$ 16 Triliun Lewat Danantara

Sebarkan artikel ini
Prabowo Bidik Modal US$ 16 Triliun Lewat Danantara
Presiden Prabowo kumpulkan 12 bos investasi global di Washington DC. Bahas potensi Investasi Danantara di Washington senilai Rp 269,8 kuadriliun. Cek di sini.

Reorientasi Ekonomi Nasional Melalui Kekuatan Investasi Global

WASHINGTON, BursaNusantara.com – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara resmi membuka keran diplomasi finansial tingkat tinggi melalui pertemuan dengan 12 pemimpin perusahaan investasi papan atas Amerika Serikat di Washington DC.

Agenda strategis yang berlangsung pada Jumat (20/2/2026) ini memfokuskan pembicaraan pada optimalisasi Investasi Danantara di Washington.

Total aset kelolaan (Asset Under Management/AUM) dari seluruh perusahaan yang hadir tercatat menyentuh angka fantastis, yakni US$ 16 triliun atau sekitar Rp 269,8 kuadriliun. Besarnya akumulasi dana tersebut diproyeksikan menjadi katalisator utama dalam pendanaan proyek strategis nasional di bawah payung Badan Pengelola Investasi Danantara.

Dalam keterangannya pada Sabtu (21/2/2026), CEO Danantara Rosan Roeslani mengungkapkan bahwa Presiden menekankan berakhirnya era Indonesia sebagai “raksasa tidur” (sleeping giant).

Narasi baru yang diusung pemerintah saat ini adalah kesiapan total Indonesia untuk bangkit dan berkolaborasi dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara masif.

Sektor Prioritas dan Partisipasi Institusi Finansial Kakap

Diskusi tersebut memetakan berbagai peluang kerja sama pada sektor-sektor yang menjadi tulang punggung ekonomi masa depan. Menurut Rosan Roeslani, bidang teknologi, energi terbarukan, infrastruktur, real estat, hingga ekonomi digital menjadi fokus utama dalam penawaran investasi tersebut.

Partisipasi tokoh-tokoh kunci seperti Matt Harris dari BlackRock, Jeffrey Perlman dari Warburg Pincus, hingga Neil R. Brown dari KKR menunjukkan tingginya minat komunitas finansial internasional. Kehadiran mereka menegaskan bahwa arah kebijakan hilirisasi dan digitalisasi Indonesia berada dalam pantauan serius para pengelola modal global.

Selain itu, keterlibatan institusi seperti General Atlantic, Stonepeak, dan Thrive Capital memberikan sinyal kuat terhadap potensi pertumbuhan modal ekuitas (growth equity) di tanah air. Sinergi ini diharapkan tidak hanya membawa modal portofolio, tetapi juga investasi langsung yang mampu mentransfer teknologi secara berkelanjutan.

Masukan Kritis Investor Terkait Kepastian Hukum dan Risiko

Selain paparan umum, Presiden melakukan dialog satu lawan satu (one-on-one) guna mendengarkan masukan mendalam dari para bos besar investasi. Figur terkemuka seperti Todd L. Boehly (CEO Eldridge) dan Armen Panossian (CEO Oaktree) secara terbuka memberikan perspektif mereka mengenai iklim usaha di Indonesia.

Poin-poin krusial yang menjadi catatan para investor mencakup konsistensi kebijakan pemerintah dan penegakan hukum (rule of law) yang absolut. Mereka juga menekankan pentingnya pengelolaan risiko yang terukur serta pengembangan pasar modal agar lebih kompetitif di tingkat regional maupun global.

Apresiasi terhadap stabilitas politik nasional menjadi landasan bagi para investor untuk melihat Indonesia dalam skala yang lebih besar dari sebelumnya. Kepercayaan ini dipandang sebagai modal sosial penting bagi Danantara dalam menjalankan fungsinya sebagai SWF yang mengonsolidasikan aset strategis negara.

Penyelarasan Visi Indonesia Emas 2045 melalui Danantara

Transformasi Danantara menjadi instrumen pusat untuk menarik modal asing berskala besar kini mulai menunjukkan hasil konkret melalui manuver di Washington. Struktur lembaga ini dirancang untuk memastikan bahwa setiap aliran modal yang masuk dapat diarahkan secara efektif ke proyek nasional berorientasi jangka panjang.

Melalui komitmen dari raksasa seperti Kayne Anderson, Levine Leichtman, dan Bernstein Equity Partners, pemerintah optimis terhadap pencapaian target pembangunan. Fokus pada energi hijau diharapkan mampu mendorong kemandirian energi sekaligus menciptakan lapangan kerja baru yang masif bagi masyarakat.

Langkah proaktif ini sekaligus menjadi pembuktian bagi dunia internasional bahwa transisi kepemimpinan di Indonesia membawa arah kebijakan yang pro-investasi. Dengan pengawalan ketat pada tata kelola, Indonesia optimistis mampu mengonversi kepercayaan US$ 16 triliun ini menjadi kemakmuran ekonomi yang riil.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Memuat Grafik...

Tinggalkan Balasan