Proyeksi Pasar Modal di Tengah Eskalasi Geopolitik Timur Tengah
JAKARTA, BursaNusantara.com – Pasar modal Indonesia saat ini sedang berada dalam fase ujian berat menyusul volatilitas ekstrem yang dipicu oleh eskalasi konflik militer di Timur Tengah.
Ketidakpastian global memaksa para pelaku pasar untuk menghitung ulang risiko investasi di saat indeks berjuang keras keluar dari tekanan zona merah.
Namun, di balik bayang-bayang krisis tersebut, pemerintah justru memberikan sinyal kepercayaan diri yang sangat kuat terhadap daya tahan ekonomi domestik.
Baca Juga
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan optimismenya bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap mampu menyentuh level 10.000 pada akhir tahun ini.
Angka tersebut akan menjadi rekor tertinggi sepanjang masa bagi bursa domestik jika berhasil terealisasi dalam beberapa bulan ke depan.
Berdasarkan keterangan yang disampaikan di Jakarta, Kamis (12/3/2026), Purbaya meminta masyarakat untuk tidak terlarut dalam ketakutan yang berlebihan.
Beliau menekankan bahwa fondasi perekonomian Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang sangat kokoh untuk menahan guncangan eksternal.
Strategi Menghadapi Minyak Mentah USD100 dan Ancaman Resesi
Peningkatan tensi antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran telah mendorong harga minyak mentah dunia menembus level psikologis USD100 per barel.
Lonjakan harga energi ini biasanya menjadi momok bagi stabilitas inflasi dan beban subsidi di dalam negeri.
Menanggapi situasi tersebut, Purbaya menjelaskan bahwa Indonesia telah memiliki rekam jejak dan pengalaman panjang dalam mengelola gejolak harga komoditas global.
Menurutnya, pemerintah memiliki keahlian yang cukup dalam mengantisipasi dampak negatif dari volatilitas harga energi terhadap postur anggaran negara.
Purbaya juga menepis kekhawatiran publik mengenai potensi resesi ekonomi yang sering menjadi perbincangan di berbagai kalangan.
Data menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia tidak sedang dalam kondisi resesi, meskipun tantangan masa depan terlihat cukup kompleks bagi sebagian pihak.
Keyakinan ini didasari pada performa indikator makro yang diklaim tetap stabil meski badai geopolitik terus berlangsung.
Analisis Volatilitas IHSG: Mampukah Berbalik Arah dari Level 7.300?
Kondisi pasar sebenarnya sedang tidak baik-baik saja sejak serangan AS dan Israel ke Iran dimulai pada 28 Februari 2026 lalu.
Sentimen negatif tersebut sempat menyeret IHSG jatuh di bawah level psikologis 8.000 dalam waktu yang relatif singkat.
Puncak kepanikan pasar terlihat pada penutupan perdagangan 4 Maret 2026, di mana indeks tercatat ambles lebih dari 4 persen dalam satu hari.
Pergerakan pasar saham saat ini diakui sangat sulit diprediksi karena seringnya terjadi pembalikan arah atau rebound sesaat yang tidak berkelanjutan.
Seperti yang terjadi pada penutupan perdagangan sore ini, IHSG sempat bergerak di zona hijau pada awal sesi namun akhirnya ditutup melemah.
Indeks berakhir terkoreksi 0,37 persen ke level 7.362, yang menunjukkan jarak yang cukup lebar untuk mencapai target 10.000.
Pemerintah tetap berpegang pada argumen bahwa kecerdasan dalam menangani gejolak global akan menjadi kunci utama pemulihan pasar modal nasional.
Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.








