Tekanan Ganda Sentimen Global dan Beban Utang Domestik
JAKARTA, BursaNusantara.com – Stabilitas nilai tukar rupiah saat ini berada dalam posisi rentan seiring dengan meningkatnya ketegangan geopolitik yang memicu guncangan pada pasokan energi dunia.
Kombinasi antara lonjakan inflasi impor dan terbatasnya ruang fiskal dalam negeri menjadi ancaman nyata bagi penguatan mata uang Garuda dalam jangka pendek.
Berdasarkan data pasar pada penutupan perdagangan Jumat (13/3/2026), nilai tukar rupiah berakhir melemah 65 poin atau sekitar 0,38 persen ke level Rp16.958 per USD.
Baca Juga
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan bahwa sentimen utama pelemahan ini masih didorong oleh kenaikan harga minyak mentah Brent yang kini bertengger di kisaran USD100 per barel.
Lonjakan harga energi tersebut merupakan imbas dari penutupan Selat Hormuz, jalur kritis yang menyalurkan seperlima pasokan minyak dan gas dunia ke pasar global.
Mengapa Suku Bunga AS dan Inflasi Global Menghimpit Rupiah?
Gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak ini memicu kekhawatiran para analis akan terjadinya guncangan inflasi di seluruh dunia.
Situasi tersebut dapat memaksa bank sentral seperti Federal Reserve untuk mempertimbangkan kembali rencana pemotongan suku bunga jangka pendek guna meredam laju harga.
Menurut riset Ibrahim Assuaibi, biaya pinjaman yang lebih tinggi di Amerika Serikat justru meningkatkan daya tarik dolar di mata investor asing.
Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.











