Geser Kebawah
Aksi KorporasiPasar

Prospek Saham BREN: Laba Tembus US$53 Juta, Sinyal Bullish?

42
×

Prospek Saham BREN: Laba Tembus US$53 Juta, Sinyal Bullish?

Sebarkan artikel ini
Prospek Saham BREN Laba Tembus US$53 Juta, Sinyal Bullish
Prospek Saham BREN menguat usai laba Q1-2026 melonjak 24% ke US$53 juta. Waspadai rasio utang 2,23 kali sebelum memutuskan posisi.

Efisiensi Pendanaan dan Manuver Ekspansi Panas Bumi

Nilai EBITDA perseroan sendiri mencatatkan pertumbuhan sebesar 11,4 persen menjadi US$ 145 juta.

Bagi pemodal, tebalnya margin ini menjadi jaring pengaman fundamental saat perseroan menanggung rasio utang terhadap ekuitas sebesar 2,23 kali per 31 Maret 2026.

Struktur kewajiban ini wajib dipantau ketat mengingat total aset perseroan saat ini tercatat sebesar US$ 3,94 miliar.

Kapasitas 926 MW: Sektor Angin Mulai Mencuri Panggung?

Lonjakan pendapatan perseroan ternyata tidak hanya bergantung pada stabilitas sumur panas bumi semata.

CEO Barito Renewables, Hendra Soetjipto Tan, mengungkapkan bahwa segmen angin memberikan kontribusi yang sangat kuat pada awal tahun ini.

Sektor tenaga angin tersebut bahkan berhasil mencatatkan salah satu tingkat produksi tertingginya sejak commercial operation date (COD).

Meskipun demikian, portofolio panas bumi BREN tetap menjadi tulang punggung dengan menyumbangkan produksi listrik yang konsisten sepanjang kuartal I-2026.

Penyelesaian proyek retrofit Wayang Windu pada awal tahun ini menjadi manuver utama peningkatan efisiensi pembangkit.

Proyek pembaruan tersebut berhasil mengerek total kapasitas terpasang panas bumi perusahaan menjadi 926 MW.

Validasi keunggulan tata kelola lingkungan perseroan juga diakui melalui raihan penghargaan PROPER Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup oleh anak usahanya, Star Energy Geothermal.

Ambisi 1.000 MW dan Ujian Eksekusi Ekspansi 2026

Fokus manajemen kini bergeser pada ketepatan waktu eksekusi proyek-proyek ekspansi utama guna mencapai skala keekonomian yang lebih masif.

Perseroan secara agresif menargetkan peningkatan total kapasitas panas bumi hingga melampaui angka 1.000 MW pada akhir tahun 2026.

Pencapaian target tersebut akan sangat bergantung pada kelancaran pengembangan Salak Unit 7 dan Wayang Windu Unit 3.

Penyelesaian proyek retrofit Darajat Unit 3 juga masuk dalam daftar ekspansi krusial perusahaan ke depan.

Kemampuan manajemen mempertahankan margin operasional di tengah agresivitas ekspansi fisik ini akan menjadi penentu stabilitas arus kas perseroan.

Pencapaian rekor margin EBITDA BREN pada kuartal pertama memberikan landasan valuasi yang solid bagi para pemegang saham.

Namun, investor ritel harus tetap mengkalkulasi risiko beban bunga dari rasio utang yang tertahan di level 2,23 kali.

Eksekusi tepat waktu pada tiga megaproyek panas bumi tahun ini akan menjadi pembuktian akhir apakah perseroan layak terus dihargai dengan premi valuasi premium di sektor energi hijau.

Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Memuat Grafik...

Tinggalkan Balasan