Geser Kebawah
HeadlinePasarSaham

PTBA Catat Laba Bersih Turun di 1Q25, Tekanan Harga Mengikuti

69
×

PTBA Catat Laba Bersih Turun di 1Q25, Tekanan Harga Mengikuti

Sebarkan artikel ini
PTBA Catat Laba Bersih Turun di 1Q25
Laba bersih PTBA anjlok 79% QoQ di kuartal I-2025. Analisis BursaNusantara.com ungkap penyebabnya dari sisi operasional dan strategi efisiensi.

Laba PTBA Anjlok Tajam di Awal 2025

JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Bukit Asam Tbk (IDX: PTBA), salah satu emiten batu bara terbesar milik negara, mengawali tahun 2025 dengan hasil kinerja keuangan yang jauh di bawah ekspektasi pasar.

Laba bersih yang dibukukan pada kuartal I-2025 hanya sebesar Rp391 miliar, turun drastis sebesar -79% secara kuartalan (QoQ) dan -51% secara tahunan (YoY).

Sponsor
Iklan

Menurut analisis Mohamad Ali, Pakar Analisis Saham Senior di BursaNusantara.com, kinerja negatif ini bukan hanya disebabkan oleh fluktuasi harga batu bara global, tetapi juga merupakan kombinasi dari tekanan musiman, efisiensi yang belum maksimal, dan melemahnya permintaan dalam negeri dan ekspor.

“Penurunan laba bersih PTBA di awal 2025 merupakan refleksi langsung dari tekanan pada sisi pendapatan dan beban pokok yang tak mampu turun secepat penjualan. Selain itu, faktor cuaca juga tak bisa diabaikan karena sangat memengaruhi siklus produksi,” jelas Mohamad Ali.

Pendapatan Tergencet Melemahnya Harga Jual dan Volume Penjualan

PTBA mencatatkan penurunan pendapatan kuartalan sebesar -18% QoQ, menjadi Rp9,9 triliun. Penurunan ini berada sedikit di bawah ekspektasi analis pasar yang memperkirakan pendapatan sekitar 22% dari estimasi tahunan (FY25F).

Dari sisi harga jual, harga jual rata-rata (average selling price/ASP) mengalami koreksi sebesar -6,7% QoQ, turun ke level Rp951 ribu per ton. Penurunan ASP ini disebabkan oleh penyesuaian harga batu bara acuan global yang kembali melemah, mengikuti tren oversupply dan menurunnya permintaan dari pasar ekspor utama seperti Tiongkok dan India.

Volume penjualan juga ikut terkoreksi, turun -17% QoQ, sejalan dengan penurunan produksi sebesar -18% QoQ. Menurut Mohamad Ali, tren ini menunjukkan bahwa PTBA tak luput dari dampak musim penghujan yang sering kali menekan aktivitas penambangan di kuartal pertama.

“Efek musiman di kuartal I adalah fenomena rutin, namun ketika dikombinasikan dengan harga jual yang jatuh, dampaknya menjadi sangat terasa. Dalam kondisi seperti ini, hanya efisiensi maksimal yang bisa menyelamatkan margin,” tambah Ali.

Margin Laba Kotor Menyusut, Efisiensi Belum Mampu Imbangi Penurunan Pendapatan

Penurunan pendapatan tak diimbangi oleh turunnya beban pokok secara proporsional. Beban pokok pendapatan hanya turun sebesar -6,3% QoQ, membuat margin laba kotor menyusut tajam sebesar -1.090 basis poin (bps) QoQ.

Komponen utama penurunan beban pokok pendapatan berasal dari:

  • Beban pertambangan: -8,0% QoQ
  • Beban transportasi, bahan bakar, dan pelumas: -7,2% QoQ

Namun, menurut analisis Mohamad Ali, penurunan ini belum cukup untuk menjaga profitabilitas.

“Efisiensi yang dilakukan masih bersifat taktis, bukan struktural. Biaya kontraktor dan logistik tetap tinggi karena bersifat sticky. Di sinilah PR utama PTBA ke depan: menekan struktur biaya tetap agar fleksibel dalam menghadapi siklus harga,” ujar Ali.

Strategi Baru BBM Dorong Efisiensi Logistik, Namun Belum Berdampak Signifikan

Sejak pertengahan November 2024, PTBA mengimplementasikan strategi baru dalam pengadaan bahan bakar. Perseroan kini membeli BBM langsung ke Pertamina, dan hanya membayar biaya angkut ke KAI untuk pengiriman menggunakan kereta api.

Kebijakan ini berhasil menurunkan biaya gabungan transportasi, bahan bakar, dan pelumas sebesar -7,2% QoQ, meskipun volume angkut justru meningkat +4,8% QoQ.

Namun, menurut Mohamad Ali, dampaknya terhadap margin belum maksimal karena masih terjadi mismatch antara biaya tetap dan penurunan pendapatan.

“Inisiatif BBM langsung ke Pertamina adalah langkah ke arah efisiensi berkelanjutan. Tapi dampaknya akan lebih terasa jika disertai dengan digitalisasi logistik dan renegosiasi kontrak jangka panjang,” jelasnya.

Evaluasi Produksi dan Proyeksi Musim Kering

Produksi PTBA selama kuartal I-2025 hanya mencapai sekitar 4,1 juta ton, lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang berada di atas 5 juta ton. Hal ini memperkuat asumsi bahwa produksi batu bara dari tambang Tanjung Enim dan sekitarnya terhambat oleh curah hujan yang tinggi.

“PTBA perlu memanfaatkan musim kering di kuartal II dan III untuk mengejar backlog produksi. Target FY25 tidak boleh dikompromikan hanya karena kelemahan kuartalan, karena pasar akan menghukum ketidakpastian tersebut,” ungkap Mohamad Ali.

Dampak Terhadap Harga Saham dan Sentimen Investor

Pasca rilis laporan keuangan 1Q25, saham PTBA mengalami tekanan jual yang cukup besar. Tercatat net sell asing sebesar Rp18,2 miliar pada 26 Mei 2025, mencerminkan hilangnya kepercayaan jangka pendek investor institusi terhadap prospek emiten ini.

Menurut Mohamad Ali, tekanan ini bersifat sementara. Jika perusahaan mampu menunjukkan pemulihan volume dan efisiensi berkelanjutan di kuartal II, maka saham PTBA bisa kembali diminati oleh pelaku pasar jangka menengah.

“Saham PTBA sedang di fase penyesuaian. Selama perusahaan mampu menjaga distribusi dividen dan menunjukkan arah perbaikan margin, tekanan ini bisa berubah menjadi peluang beli,” tandas Ali.

Apakah PTBA Akan Revisi Proyeksi 2025?

Sejauh ini, manajemen PTBA belum mengumumkan revisi atas target tahunan mereka, baik dari sisi volume produksi maupun laba. Namun, dengan realisasi laba yang baru mencapai sekitar 10% dari target tahunan, pasar mulai berspekulasi bahwa revisi bisa saja terjadi jika kuartal II tidak membaik.

Mohamad Ali menyarankan agar investor mencermati arah manajemen dalam RUPS mendatang.

“Jika PTBA ingin mempertahankan kepercayaan investor institusi, transparansi dan komunikasi tentang strategi pemulihan margin harus menjadi prioritas dalam kuartal berjalan,” ujar Ali.

Data yang diungkap dalam laporan keuangan PTBA kuartal I-2025 menyiratkan bahwa tantangan eksternal dan internal masih membayangi kinerja emiten batu bara ini. Namun, analisis kami melihat adanya potensi perbaikan jika manajemen mampu mengakselerasi efisiensi dan produksi dalam kuartal berikutnya.

Kinerja laba yang merosot tajam ini bukan sekadar dampak harga batu bara global, tapi juga merupakan cerminan bahwa transformasi biaya dan manajemen musim masih menjadi tantangan yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.