Kinerja Saham Multifinance Juni 2025 Bergerak Variatif
JAKARTA, BursaNusantara.com – Pergerakan harga saham emiten multifinance di Bursa Efek Indonesia hingga awal Juni 2025 menunjukkan dinamika yang beragam. Beberapa mencatatkan penguatan, sementara sebagian lainnya justru terkoreksi.
Saham PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (IDX:ADMF) stagnan di level Rp 8.875 per saham. Namun secara year to date (ytd), ADMF sudah terkoreksi 9,90%.
Saham PT BFI Finance Indonesia Tbk (IDX:BFIN) naik 0,57% ke Rp 885 per saham, tetapi ytd masih turun 6,35%. Sedangkan saham PT Clipan Finance Indonesia Tbk (IDX:CFIN) turun tipis 0,51% menjadi Rp 394, namun ytd sudah melonjak 27,92%.
Saham PT Mandala Multifinance Tbk (IDX:MFIN) juga terkoreksi 0,31% ke Rp 3.200, dengan kinerja ytd minus 24%. Saham PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (IDX:WOMF) menguat 0,57% ke Rp 350, namun masih terkoreksi 1,69% secara ytd.
Saham PT Buana Finance Tbk (IDX:BBLD) terkoreksi 1,44% ke Rp 685, meski tercatat naik 5,38% sepanjang tahun berjalan.
Variasi Fundamental Dorong Kinerja Saham
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer menilai kinerja fundamental emiten multifinance pada kuartal I-2025 masih menunjukkan variasi signifikan.
“BFIN menunjukkan kinerja cukup positif karena efisiensi biaya dan pembiayaan kendaraan bekas,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (4/6).
Sebaliknya, ADMF dan BBLD menghadapi tekanan pertumbuhan akibat tingginya cost of fund dan penurunan margin. Beban operasional serta risiko kredit disebut tetap menjadi tantangan utama.
Menurut Khaer, secara umum sektor ini masih stabil tetapi belum pulih sepenuhnya. Industri masih dibayangi tekanan eksternal, seperti tingginya rasio kredit bermasalah dan lemahnya daya beli masyarakat.
Peluang di Segmen UMKM dan Efisiensi
Khaer menyebut pembiayaan ke sektor UMKM dan produktif tetap menjanjikan. Peluang akan lebih terbuka apabila tren suku bunga membaik di paruh kedua tahun ini.
Dari sisi teknikal, BFIN dinilai memiliki peluang kenaikan lebih lanjut dengan fundamental yang mendukung. Khaer merekomendasikan harga target BFIN di Rp 920 per saham.
Analis Infovesta Utama, Ekky Topan juga melihat sektor ini masih tertinggal dibandingkan perbankan dari sisi likuiditas dan performa pasar.
“Perlambatan penjualan mobil, suku bunga tinggi, dan persaingan fintech menjadi tekanan utama sektor pembiayaan,” jelasnya.
Strategi BFIN Jadi Kunci Daya Saing
Ekky menilai BFIN tetap menarik di tengah tekanan. Strategi pembiayaan tidak langsung yang mendominasi portofolio perusahaan menjadi keunggulan utama.
“Dengan non-direct financing mencapai sekitar 70% portofolio, BFIN lebih fleksibel dalam mengelola risiko kredit,” kata Ekky.
Efisiensi dan profitabilitas BFIN juga dianggap unggul, dengan ROE konsisten di kisaran 20% dalam lima tahun terakhir. Ini menunjukkan daya tahan dan daya saing yang solid.
Namun, Ekky mengingatkan tantangan 2025 tetap besar. Daya beli masyarakat belum pulih, kualitas aset berpotensi tertekan, dan penjualan mobil belum pulih optimal.
Rekomendasi Saham Multifinance
Untuk BFIN, Ekky memberikan rekomendasi beli dengan target jangka panjang Rp 1.100 per saham. Kekuatan keuangan dan efisiensi operasional menjadi dasar utama penilaian.
“Namun, investor harus tetap waspada terhadap dinamika eksternal yang memengaruhi industri,” tuturnya.
Dengan variasi performa saham multifinance sejauh ini, pemilihan saham berbasis fundamental dan strategi korporasi akan menjadi kunci navigasi di tengah tantangan ekonomi 2025.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












