Geser Kebawah
BankKeuangan

Tiga Bank Besar Pacu Pembiayaan Hijau di Awal 2025

118
×

Tiga Bank Besar Pacu Pembiayaan Hijau di Awal 2025

Sebarkan artikel ini
Tiga Bank Besar Pacu Pembiayaan Hijau di Awal 2025
Bank Mandiri, BCA, dan BNI mencatat lonjakan pembiayaan berkelanjutan di kuartal I-2025, sejalan target NZE 2060.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Laju pembiayaan sektor hijau di Indonesia menunjukkan tren akseleratif pada kuartal I-2025, mencerminkan keseriusan pelaku perbankan dalam merespons isu iklim secara konkret.

Sejumlah bank besar nasional memanfaatkan momentum ini untuk memperluas portofolio berkelanjutan, sebagai bagian dari transformasi menuju ekonomi rendah karbon.

Sponsor
Iklan

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi salah satu pionir yang konsisten memperluas eksposur pada segmen hijau.

Dalam tiga bulan pertama 2025, nilai portofolio pembiayaan berkelanjutan perseroan tumbuh 11,1% secara tahunan, mencapai Rp294 triliun.

Baca Juga: BSI Perkuat Komitmen ESG dengan Digital Carbon Tracking dan Kendaraan Listrik

Rinciannya, portofolio hijau naik 13,4% menjadi Rp148 triliun, sementara portofolio sosial tumbuh 9% ke level Rp146 triliun.

Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi mengungkapkan bahwa ekspansi pembiayaan hijau turut diperkuat melalui sinergi strategis dengan mitra bisnis.

Fokus pengembangan diarahkan pada produk dan layanan berbasis prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance), sekaligus mendorong efisiensi energi di sektor operasional.

Lebih dari sekadar pembiayaan, komitmen Bank Mandiri juga diwujudkan dalam penerapan tata kelola perusahaan yang baik (GCG) dan literasi keuangan masyarakat.

Baca Juga: BNI Pacu Green Banking, Salurkan Pembiayaan Hijau Triliunan Rupiah

Perbankan Kuatkan Komitmen pada Arah Netral Karbon

Seiring transformasi global menuju energi bersih, perbankan nasional terus menyesuaikan diri. Bank Mandiri, misalnya, menyatakan dukungannya terhadap transisi ekonomi hijau nasional, dengan visi jangka panjang menuju Net Zero Emission (NZE) tahun 2060 sebagaimana ditargetkan pemerintah.

Langkah proaktif yang diambil oleh Mandiri direspons positif oleh pasar keuangan dan menjadi indikator penguatan arah industri keuangan hijau.

Tak hanya Bank Mandiri, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga mencatat pertumbuhan signifikan pada sektor pembiayaan berkelanjutan.

Baca Juga: Anak Usaha Prajogo Dapat Kredit Rp 2,43 Triliun dari BNI

Pada kuartal I-2025, BCA telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp235 triliun ke sektor-sektor yang mengusung prinsip ESG tumbuh 19% secara tahunan.

Menurut Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja, nilai tersebut setara dengan sekitar seperempat dari total portofolio pembiayaan perusahaan. Ia menyebut angka tersebut sebagai bentuk keseriusan BCA dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

BNI Dorong UMKM Hijau dan Skema SLL

Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menunjukkan strategi yang lebih inklusif dengan memasukkan pembiayaan kepada UMKM dalam kerangka portofolio berkelanjutan.

Baca Juga: DPR Puji Langkah Digitalisasi BNI dan Pertumbuhan Keuangannya

Hingga Maret 2025, total pembiayaan BNI untuk sektor yang termasuk Kategori Kegiatan Usaha Berkelanjutan (KKUB) tercatat mencapai Rp182,4 triliun atau sekitar 24,3% dari total kredit.

Dari angka tersebut, sebesar Rp110,2 triliun dialokasikan untuk pemberdayaan UMKM, sementara Rp72,2 triliun disalurkan dalam bentuk green loan.

Direktur Manajemen Risiko BNI, David Pirzada, menekankan bahwa pertumbuhan portofolio hijau BNI selama empat tahun terakhir menunjukkan CAGR sebesar 23,5%.

Guna memperluas dampak pembiayaan, BNI juga mengembangkan skema Sustainability Linked Loan (SLL) yang telah menyalurkan pembiayaan senilai Rp6 triliun ke berbagai sektor padat energi seperti peternakan, manufaktur besi, semen, dan industri plastik.

Program BUMI Perkuat Akar Ekonomi Lingkungan

Tak hanya menyentuh sektor industri besar, BNI juga aktif mendorong pertumbuhan UMKM berbasis lingkungan melalui program BUMI (BNI UMKM Ramah Lingkungan). Pada kuartal pertama 2025, BNI telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp13,9 miliar kepada 40 pelaku UMKM di sektor industri kreatif dan kerajinan.

Program ini tidak berhenti pada pembiayaan semata. BNI turut memberikan insentif, pelatihan, hingga sertifikasi lingkungan guna mendorong pelaku UMKM masuk ke dalam ekosistem hijau.

Langkah-langkah ini turut diperkuat oleh strategi efisiensi energi dan pengelolaan limbah di seluruh kantor operasional BNI. David menyebut bahwa perusahaan tengah mengadopsi prinsip zero waste to landfill untuk mengurangi emisi secara signifikan.

BNI juga mengintegrasikan nilai-nilai gaya hidup hijau dalam budaya perusahaan, dengan harapan mendorong transformasi menyeluruh dari hulu ke hilir. Semua upaya ini bertujuan mewujudkan NZE untuk operasional pada 2028 dan pembiayaan pada 2060.

Dengan strategi berlapis dari tiga bank besar tersebut, sektor perbankan Indonesia memperlihatkan bahwa keberlanjutan bukan lagi sekadar inisiatif, tetapi menjadi landasan bisnis masa depan.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru