Geser Kebawah
PasarSaham

Tiga Kesalahan Investor Pemula yang Sering Terulang

80
×

Tiga Kesalahan Investor Pemula yang Sering Terulang

Sebarkan artikel ini
Tiga Kesalahan Investor Pemula yang Sering Terulang
Investor pemula rentan rugi karena tiga kesalahan klasik. Pahami agar tak jatuh ke lubang yang sama.

Belajar dari Kesalahan, Ini Tiga Blunder Umum Investor Pemula

JAKARTA, BursaNusantara.com – Di tengah fluktuasi tajam di pasar keuangan, banyak investor pemula tergelincir karena tekanan mental dan keputusan impulsif. Penurunan nilai investasi tak jarang memicu kepanikan, memperparah kerugian yang sebetulnya bisa dihindari.

Perencana keuangan Prita Ghozie menyoroti tiga kesalahan utama yang paling sering dialami investor pemula. Ketiganya bukan hanya umum, tapi juga berulang, bahkan di kalangan yang sudah pernah merasakan pahit-manisnya pasar.

Sponsor
Iklan

Masih Pakai Dana Hidup? Waspada Investasi Tanpa Uang Dingin

Kesalahan paling krusial menurut Prita adalah menggunakan dana kebutuhan hidup untuk berinvestasi. Konsep “uang dingin” sering diabaikan, padahal ini kunci utama untuk menjaga stabilitas emosi saat pasar bergejolak.

“Uang dingin itu uang yang nggak kepakai untuk kebutuhan sehari-hari atau darurat,” jelas Prita melalui akun Instagram @pritaghozie, Sabtu (31/5/2025).

Ia menambahkan bahwa uang yang dipakai untuk investasi seharusnya tidak membuat investor “kepanasan” saat terjadi kerugian.

Sayangnya, banyak pemula justru mengalokasikan dana pokok seperti biaya makan, sewa, atau cicilan ke dalam instrumen berisiko. Begitu terjadi penurunan, mereka panik dan terpaksa menjual rugi.

Asal Beli, Asal Jual? Investasi Tanpa Rencana Itu Bunuh Diri Finansial

Kesalahan kedua adalah tidak memiliki perencanaan investasi yang matang. Dorongan emosional atau FOMO (Fear of Missing Out) kerap menjebak investor dalam pola transaksi impulsif.

Alih-alih menetapkan target jangka panjang, pemula sering mengikuti tren sesaat tanpa menghitung profil risiko pribadi.

Padahal, investasi yang sehat memerlukan peta jalan: tujuan keuangan, jangka waktu, alokasi aset, dan strategi keluar yang jelas.

Tanpa itu, investor hanya akan terseret arus pasar, bukan mengarahkan arusnya.

Belum Siap Investasi Kalau Dana Darurat Saja Belum Punya

Dana darurat adalah pondasi sebelum melangkah ke dunia investasi. Tapi justru ini yang paling sering dilupakan.

Dalam situasi darurat, tanpa cadangan dana, banyak investor terpaksa mencairkan portofolio saat nilai sedang rendah.

Risikonya bukan hanya rugi finansial, tapi juga trauma investasi jangka panjang.

Prita mengingatkan, dana darurat sebaiknya disiapkan terlebih dahulu agar keputusan investasi tidak tercampur dengan kebutuhan mendesak.

Butuh Instrumen Lebih Tenang? Obligasi Bisa Jadi Titik Awal

Bagi investor yang belum siap menghadapi volatilitas saham, obligasi dapat menjadi pilihan awal yang masuk akal.

“Obligasi cocok untuk pemula karena risikonya lebih rendah dibandingkan saham,” ujar Prita.

Dengan kupon sebagai imbal hasil rutin dan nilai pokok yang dibayar penuh saat jatuh tempo, obligasi menawarkan stabilitas dan kepastian.

Lebih dari itu, obligasi juga membantu diversifikasi portofolio—elemen penting untuk mengurangi risiko dalam jangka panjang.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.