Geser Kebawah
HeadlineKomoditasPasar

Harga Emas Terkoreksi, Momentum Masuk Pasar?

120
×

Harga Emas Terkoreksi, Momentum Masuk Pasar?

Sebarkan artikel ini
Harga Emas Terkoreksi, Momentum Masuk Pasar
Harga emas turun jangka pendek usai reli panjang. Analis nilai ini sebagai koreksi wajar dan peluang akumulasi di tengah prospek cerah 2025.

Harga Emas Melemah, Analis Sebut Koreksi Sehat

JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga emas mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir setelah mencatat reli tajam sejak awal tahun.

Koreksi ini disebut analis sebagai penyesuaian yang wajar dan bahkan menjadi peluang strategis bagi investor.

Sponsor
Iklan

Mengutip Bloomberg, Selasa (20/5) pukul 15.13 WIB, harga emas spot berada di level US$ 3.219,9 per ons troi, turun 0,30% dalam sehari. Secara mingguan, harga logam mulia ini telah terkoreksi 0,93%.

Harga emas batangan Antam juga mengalami penurunan signifikan. Nilainya jatuh 1,21% ke Rp 1.871.000 per gram dibanding perdagangan sebelumnya. Dalam sepekan terakhir, harga emas Antam tercatat melemah sebesar 0,69%.

Baca Juga: Cara Menghitung Harga Wajar Saham: Panduan Lengkap untuk Investor Pemula

Reli Besar Picu Aksi Ambil Untung

Sutopo Widodo, Presiden Komisioner HFX International Berjangka, menilai penurunan emas sebagai hal yang wajar setelah lonjakan harga lebih dari 20% sejak awal 2025.

Ia menyebut tekanan ini dipicu aksi ambil untung dan meredanya ketegangan perang dagang.

Menurutnya, area US$ 3.000 hingga US$ 3.150 per ons troi menjadi zona support teknikal dan psikologis penting.

Ia menyatakan bahwa selama harga tetap berada di atas rata-rata pergerakan 200 hari, tren jangka panjang emas masih positif.

Baca Juga: 3 Emiten Siap Bagikan Dividen, ASII Tawarkan Yield 6,31%

Faktor Fundamental Tetap Kuat

Sutopo menegaskan bahwa sentimen jangka panjang masih mendukung harga emas. Konflik geopolitik, tekanan inflasi, diversifikasi cadangan devisa oleh bank sentral, serta ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed menjadi pemicu utama.

Ia bahkan menyarankan koreksi ini sebagai saat tepat untuk masuk ke pasar. “Koreksi ini sebenarnya bisa dijadikan momentum untuk memasuki pasar,” ujarnya.

Secara historis, emas terbukti andal dalam melindungi nilai aset di tengah ketidakpastian ekonomi, geopolitik, dan fluktuasi pasar. Emas juga berfungsi sebagai instrumen diversifikasi portofolio yang solid.

Dampak Penurunan Peringkat Kredit AS

Sutopo juga menyoroti penurunan peringkat kredit Amerika Serikat oleh Moody’s dan meningkatnya defisit global sebagai penggerak baru minat terhadap emas.

Baca Juga: BI Berpeluang Pangkas BI-Rate 25 bps ke 5,5%, The Fed Acuannya

Ia melihat ini sebagai sinyal hilangnya kepercayaan pada mata uang fiat dan surat utang negara.

“Hal ini dapat menjadi katalis positif bagi permintaan emas,” jelasnya.

Namun analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa efek penurunan peringkat ini hanya terasa jangka pendek.

Ia membandingkan situasi ini dengan kejadian sebelumnya yang berdampak sementara pada pasar.

Belum Ada Katalis Baru Jangka Pendek

Menurut Lukman, dalam waktu dekat belum ada katalis baru yang cukup kuat untuk mendorong harga emas naik signifikan.

Baca Juga: Kilang Pertamina Pastikan Avtur Aman untuk Haji 2025

Ia menyebut pasar masih cenderung menunggu kejelasan soal potensi kesepakatan dagang, terutama antara AS dan China.

“Investor masih wait and see terhadap perkembangan kesepakatan tarif. Jika ada kesepakatan besar seperti sebelumnya, harga emas bisa turun lebih jauh,” ujarnya.

Lukman memproyeksikan harga emas akan bergerak sideways dalam waktu dekat. Ia memperkirakan kisaran US$ 3.000 hingga US$ 3.700 per ons troi hingga akhir 2025, tergantung situasi global.

Prospek 2025 Tetap Cerah di Tengah Volatilitas

Sutopo optimistis harga emas berpotensi kembali menguat hingga menembus US$ 3.500 atau lebih jika terjadi guncangan geopolitik atau ekonomi global besar.

Ia mengakui bahwa volatilitas jangka pendek akan tetap ada, namun tidak menggoyahkan prospek keseluruhan.

“Volatilitas masih akan hadir, tetapi prospek jangka panjang tetap mendukung,” tutup Sutopo.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.