Geser Kebawah
HeadlinePasarSaham

Analisa Emiten Properti Andalkan Proyek BSDE, SMRA, dan CTRA

262
×

Analisa Emiten Properti Andalkan Proyek BSDE, SMRA, dan CTRA

Sebarkan artikel ini
Analisa Emiten Properti Andalkan Proyek BSDE, SMRA, dan CTRA
Emiten properti tetap mencatat laba di tengah tantangan ekonomi 2025. Proyek internal jadi penopang utama di tengah ketidakpastian pasar.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Kinerja emiten properti Indonesia pada tahun 2025 masih mendapat sokongan dari proyek internal masing-masing perusahaan, meski harus menghadapi tekanan dari kondisi makroekonomi global dan domestik.

Kebijakan fiskal yang mendukung, seperti pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk rumah hingga Rp 5 miliar, memang menjadi katalis positif, tetapi tidak cukup kuat mendorong lonjakan signifikan pada pra penjualan tahun ini.

Sponsor
Iklan

Dampak Kebijakan Bebas PPN

Analis Maybank Sekuritas, Kevin Halim dan Jeffrosenberg Chenlim, menyatakan bahwa meski kebijakan bebas PPN berhasil mendorong angka pra penjualan pada tahun fiskal 2024 (FY24), tren tersebut diprediksi tidak berlanjut secara agresif pada tahun 2025.

Baca Juga: Laba Ciputra Development (CTRA) Naik 15% di 2024

PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), misalnya, membukukan pra penjualan bebas PPN senilai Rp 1,8 triliun di FY24, naik tajam dari Rp 300 miliar pada 2023. Sementara itu, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) mencatatkan angka Rp 1,86 triliun, naik 2,3% secara tahunan (yoy), dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA) tumbuh 4,1% yoy.

Namun begitu, ketiga emiten besar ini serempak menurunkan target pra penjualan pada FY25. CTRA menurunkan target dari Rp 3 triliun menjadi Rp 2 triliun. SMRA dan BSDE pun sama-sama menetapkan target sebesar Rp 1 triliun, lebih rendah dibanding capaian FY24 mereka.

Penurunan target ini mencerminkan kekhawatiran pelaku industri terhadap kondisi likuiditas yang menantang serta tekanan dari ekonomi global yang belum stabil.

Baca Juga: BSDE Lampaui Target Prapenjualan 2024, Optimistis Hadapi 2025

Ancaman Perlambatan Daya Beli

Analis Panin Sekuritas, Aqil Triyadi, menyoroti bahwa potensi perlambatan daya beli properti akan membayangi kinerja emiten. Hal ini selaras dengan survei Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) Bank Indonesia yang mengindikasikan perlambatan di 10 kota besar Indonesia.

Menurut Aqil, perlambatan IHPR ini diproyeksikan akan melemahkan pendapatan dan laba BSDE tahun ini. Pandangan serupa juga disampaikan Kevin dan Jeff, yang memperkirakan tren penurunan laba dan pendapatan berlanjut hingga dua tahun ke depan, meskipun untuk SMRA dan CTRA diproyeksi rebound pada FY26 dan FY27.

Kinerja FY24 Masih Cemerlang

Meski tekanan mulai terasa, kinerja emiten properti sepanjang FY24 menunjukkan hasil yang menggembirakan. BSDE mencatat pendapatan Rp 13,797 triliun, naik 19,6% yoy, dengan laba bersih melonjak 124% ke Rp 4,4 triliun.

Baca Juga: SMRA Resmi Akuisisi dan Menjadi Pengendali Duta Wahana Asri

Peningkatan tersebut ditopang penjualan di BSD City, sektor baru Grand Wisata Cibubur dan Grand City Balikpapan, serta gain dari akuisisi PT Suryamas Duta Makmur Tbk.

Aqil menilai, proyek baru seperti “The Vicente” di Grand Wisata Bekasi akan menjadi penopang pertumbuhan BSDE, ditambah struktur keuangan solid dengan net gearing rendah 0,12x.

Sementara itu, SMRA mengantongi pendapatan Rp 10,623 triliun, tumbuh 60% yoy, dan laba Rp 1,373 triliun, naik 79,3% yoy. Analis Phintraco Sekuritas, Nurwachidah, menyebut peningkatan ini didorong oleh lonjakan penjualan rumah dan apartemen, terutama dari proyek di Summarecon Tangerang yang mulai dipasarkan pada kuartal IV FY24.

Baca Juga: IHSG Diprediksi Rebound, 4 Saham Ini Jadi Andalan Cuan?

Dalam riset Maybank, pendapatan SMRA diprediksi menurun ke Rp 8,250 triliun pada FY25, namun akan kembali meningkat di FY26 dan FY27. Proyeksi laba juga mengalami fluktuasi, tetapi diharapkan pulih ke atas Rp 1 triliun di 2027.

CTRA juga mencatat kinerja positif dengan pendapatan Rp 11,18 triliun dan laba Rp 2,12 triliun di FY24. Meskipun target pra penjualan FY25 diturunkan, CTRA tetap memiliki pertumbuhan solid dengan rata-rata pertumbuhan tahunan (CAGR) 12,4% dalam lima tahun terakhir.

Proyek Internal Jadi Penopang

Kevin dan Jeff dalam risetnya menilai bahwa proyek CitraLand Surabaya dan CitraGarden Bintaro akan menjadi motor penggerak utama CTRA sepanjang FY25. Dengan baseline yang kuat dan portofolio proyek strategis, emiten ini tetap prospektif dalam jangka menengah hingga panjang.

Baca Juga: CTRA dan TRIN Garap Proyek Apartemen ASN IKN

Di sisi lain, proyek baru dari BSDE dan SMRA diperkirakan akan menjaga stabilitas pemasukan di tengah ancaman ketatnya likuiditas dan fluktuasi ekonomi global.

Secara keseluruhan, meskipun sektor properti dibayangi ketidakpastian, emiten-emiten besar seperti BSDE, SMRA, dan CTRA tetap menunjukkan fundamental yang solid. Para analis pun masih optimis, terbukti dari rekomendasi buy yang diberikan kepada ketiga saham tersebut.

Kevin dan Jeff memberi target harga Rp 1.050 per saham untuk CTRA. Aqil memberikan target Rp 1.000 untuk BSDE, dan Nurwachidah menyasar Rp 600 untuk SMRA. Rekomendasi tersebut mencerminkan keyakinan bahwa proyek-proyek strategis dari emiten properti akan terus menjadi pilar utama dalam menghadapi tantangan tahun 2025.

Baca Juga: IHSG Diprediksi Rebound, 4 Saham Ini Jadi Andalan Cuan?

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Tinggalkan Balasan