KomoditasPasar

Analisis Harga Emas: Mengapa Emas Loyo Saat Perang Memuncak?

35
Analisis Harga Emas Mengapa Emas Loyo Saat Perang Memuncak
Analisis Harga Emas melambat akibat penguatan Dolar AS dan krisis likuiditas di Selat Hormuz. Pahami manuver The Fed sebelum posisi hedging Anda amblas!

Paradoks Safe Haven di Tengah Kebuntuan Diplomasi Timur Tengah

JAKARTA, BursaNusantara.com – Realitas pahit kini menghantam para spekulan logam mulia yang berharap pada lonjakan harga akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Harga emas justru bergerak menurun tipis pada perdagangan Kamis (8/5/2026) setelah mata uang Dolar AS berbalik menguat secara agresif.

Penguatan Dolar AS ini dipicu oleh memudarnya harapan akan kesepakatan damai segera antara Amerika Serikat dan Iran.

Pesan yang beragam dari Teheran membuat para pelaku pasar meragukan efektivitas jalur diplomatik yang sedang ditempuh.

Berdasarkan data pasar pada pukul 19:31 GMT, harga emas spot memang tercatat naik tipis 0,3 persen ke level USD4.705,76 per ons.

Namun, mengutip laporan Investing, posisi tersebut sebenarnya sudah turun dari level tertinggi dua minggunya.

Tekanan tambahan terhadap harga emas muncul seiring laporan bahwa Washington mempertimbangkan operasi pengawalan kapal komersial di Selat Hormuz.

Anomali Safe Haven: Emas Sebagai Sumber Likuiditas Dolar?

Perilaku harga logam mulia sejak eskalasi konflik di Selat Hormuz tampak tidak sesuai dengan intuisi sejarah keuangan global.

Biasanya, periode tekanan geopolitik ekstrem akan mendorong investor berbondong-bondong menuju emas sebagai tempat berlindung yang aman.

Kepala strategi makro di LPL Financial, Kristian Kerr, mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa emas justru mencatat kerugian pada bulan April.

Kerr menjelaskan bahwa gangguan energi di Selat Hormuz telah memicu guncangan pasokan terbesar dalam sejarah yang menghancurkan arus kas negara-negara Teluk.

Bagi negara yang bergantung pada ekspor energi, jatuhnya pendapatan minyak menciptakan masalah likuiditas dolar yang sangat akut.

Dalam kondisi terjepit, status emas sebagai aset “Tier 1” membuatnya lebih sering digunakan sebagai sumber pendanaan dolar daripada penyimpan nilai.

Menjual atau menukar kepemilikan emas memberikan akses langsung ke mata uang Dolar AS yang berada di puncak hierarki pendanaan global.

Insight ini menjelaskan mengapa harga emas kesulitan mendapatkan daya tarik konsisten meskipun terjadi gangguan energi paling parah dalam beberapa dekade.

Diplomasi Pakistan dan Skenario “Sticker Shock” Suku Bunga

Pasar saat ini sedang berada dalam fase jeda karena pedagang menunggu kejelasan jalur diplomatik antara Washington dan Teheran.

Kepala divisi logam di Britannia Global Markets, Neil Welsh, menyebutkan bahwa Teheran sedang meninjau proposal 14 poin untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Diskusi mengenai kerangka kerja perdamaian ini diperkirakan akan dimulai pekan depan di Pakistan menurut laporan Wall Street Journal.

Proses yang direncanakan berlangsung selama sebulan ini akan berupaya menyelesaikan perselisihan nuklir dan pencabutan sanksi ekonomi.

Namun, guncangan energi akibat penutupan selat telah menyebarkan kekhawatiran akan lonjakan tekanan inflasi di seluruh dunia.

Kondisi inflasi ini memicu ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan bereaksi dengan menaikkan suku bunga.

Tren kenaikan suku bunga merupakan sentimen negatif bagi aset tanpa imbal hasil seperti emas batangan.

Sebaliknya, penurunan harga minyak yang sempat terjadi pekan ini membantu mengurangi kekhawatiran inflasi jangka panjang bagi sebagian pelaku pasar.

Dinamika antara ketergantungan likuiditas dolar dan ancaman inflasi global telah mengubah fungsi emas dari sekadar pelindung nilai menjadi alat mitigasi defisit tunai negara-negara besar.

Investor harus mewaspadai bahwa selama Selat Hormuz masih menjadi titik sumbat logistik energi, emas akan terus ditekan oleh kebutuhan global akan uang tunai Dolar AS yang mendesak.

Kejelasan hasil perundingan di Pakistan pekan depan akan menjadi penentu apakah emas akan kembali ke fungsi tradisionalnya atau tetap terjebak dalam siklus likuiditas paksa.

Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Memuat Grafik...
×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version