Geser Kebawah
HeadlineKomoditasPasar

Harga Emas Melonjak 2,8%, Dolar Melemah dan Geopolitik Memanas

196
×

Harga Emas Melonjak 2,8%, Dolar Melemah dan Geopolitik Memanas

Sebarkan artikel ini
Harga Emas Melonjak 2,8%, Dolar Melemah dan Geopolitik Memanas
Harga emas tembus US$3.381,6 per ons didorong pelemahan dolar AS, memanasnya geopolitik, dan kekhawatiran pasar global.

Emas Melambung di Tengah Kekacauan Global

JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga emas dunia melonjak tajam pada perdagangan Senin (2/6/2025), menandai kenaikan lebih dari 2% dan menyentuh level tertinggi dalam lebih dari tiga pekan.

Lonjakan harga ini didorong oleh pelemahan dolar AS, meningkatnya ketegangan geopolitik, serta ketidakpastian ekonomi global yang memicu minat investor terhadap aset safe haven seperti emas.

Sponsor
Iklan

Harga emas spot tercatat naik 2,8% menjadi US$3.381,6 per ons. Sementara kontrak berjangka emas AS ditutup menguat 2,5% di US$3.397,20 per ons.

Pelemahan Dolar Picu Lonjakan Permintaan

Kenaikan emas tak lepas dari pelemahan dolar AS yang turun 0,5% terhadap sekeranjang mata uang utama dunia. Kondisi ini membuat emas menjadi lebih murah bagi pembeli non-AS, sehingga mendorong permintaan terhadap logam mulia.

Baca Juga: Ketegangan Global Dorong Harga Minyak Naik Hampir 3%

Menurut laporan CNBC Internasional, pergerakan dolar yang melemah menjadi katalis penting bagi reli harga emas dalam beberapa hari terakhir.

Pasar memperkirakan volatilitas masih akan berlanjut seiring pasar bersiap menyambut data ekonomi penting dan kebijakan suku bunga dari berbagai bank sentral.

Geopolitik Memanas, Pasar Global Tertekan

Pasar saham global ikut terguncang setelah ketegangan antara AS dan China kembali mencuat. Presiden AS Donald Trump menuduh China melanggar kesepakatan dagang terkait pembatasan tarif dan perdagangan mineral strategis.

Sementara itu, ancaman tarif tambahan diumumkan pada Jumat (30/5/2025), termasuk rencana menggandakan tarif baja dan aluminium hingga 50%.

Situasi kian rumit dengan serangan Ukraina ke wilayah Rusia yang terjadi di akhir pekan lalu, memperbesar risiko geopolitik dan menumbuhkan sentimen risk off di kalangan investor.

Baca Juga: Harga Batu Bara Meroket, Sentimen Rusia Dongkrak Pasar Global

“Ancaman tarif terbaru serta eskalasi militer memperbesar risiko geopolitik dan meningkatkan minat pada aset safe haven,” ujar Peter Grant, Wakil Presiden Zaner Metals.

Fokus Pasar: The Fed dan ECB

Pasar juga tengah menanti arah kebijakan moneter dari The Fed. Ketua Jerome Powell dan sejumlah pejabat bank sentral dijadwalkan menyampaikan pandangan terkait prospek suku bunga ke depan.

Kebijakan suku bunga rendah cenderung mendorong harga emas karena menurunkan opportunity cost dalam menyimpan aset non-yielding tersebut.

Di sisi lain, Bank Sentral Eropa diprediksi akan memangkas suku bunga dalam keputusan yang akan diumumkan pekan ini. Hal ini menambah sinyal bahwa pelonggaran moneter masih mendominasi respons global terhadap ketidakpastian ekonomi.

Baca Juga: ADMR Tebar Dividen Rp1,9 T, Genjot Smelter Aluminium

Analis: Kondisi Mendukung Prospek Emas

Analis pasar senior BursaNusantara.com, Mohamad Ali, menilai lonjakan harga emas sejalan dengan peningkatan ketegangan dagang dan ketidakpastian fiskal di AS.

“Untuk prospek emas, kondisi risk off dan ketidakpastian fiskal ini menjadi kombinasi yang sangat mendukung,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa isu plafon utang AS, dinamika suku bunga, serta konflik geopolitik menjadi elemen utama yang mendorong investor beralih ke logam mulia sebagai pelindung nilai.

Logam Lain Juga Meroket

Tidak hanya emas, harga perak spot juga mencatat lonjakan signifikan. Perak naik 4,7% menjadi US$34,54 per ons, level tertingginya sejak Oktober 2024. Ini sekaligus menjadi level tertinggi dalam lebih dari tujuh bulan terakhir.

Platinum menguat 0,6% ke US$1.062,10 per ons, sementara palladium naik 1,8% ke US$988,19 per ons. Penguatan serentak ini menandakan meningkatnya permintaan secara luas terhadap komoditas logam di tengah ketegangan dan ketidakpastian global yang terus memanas.

Investor dan pelaku pasar terus mencermati perkembangan geopolitik dan ekonomi global untuk mengambil posisi strategis. Kewaspadaan pasar diperkirakan tetap tinggi selama minggu ini.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.