Geser Kebawah
Internasional

Konflik Selat Hormuz 2026: Kapal Perang AS Diserang Rudal

24
×

Konflik Selat Hormuz 2026: Kapal Perang AS Diserang Rudal

Sebarkan artikel ini

Bentrokan Terbuka di Urat Nadi Distribusi Minyak Dunia

JAKARTA, BursaNusantara.com – Stabilitas pasokan energi global kini berada di ujung tanduk setelah konfrontasi militer langsung pecah di wilayah perairan paling strategis di dunia.

Laporan intelijen terbaru mengonfirmasi adanya serangan terkoordinasi yang menargetkan aset tempur utama Amerika Serikat di tengah upaya pembukaan blokade laut.

Serangan Rudal IRGC dan Penyitaan Tanker Ocean Coil

Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan keberhasilan serangan terhadap tiga kapal perang Amerika Serikat.

Operasi tersebut dilancarkan pada Kamis malam menggunakan kombinasi teknologi rudal balistik dan kawanan drone saat kapal-kapal AS melintasi Selat Hormuz.

Ketegangan semakin meruncing dengan aksi penyitaan kapal tanker minyak Ocean Coil di wilayah Teluk Oman.

Kapal berbendera Barbados tersebut dituduh oleh otoritas Teheran berupaya menyabotase ekspor minyak Iran.

Pencatatan data menunjukkan bahwa Ocean Coil telah berada dalam daftar sanksi Amerika Serikat sejak Februari 2026.

Bagi pelaku pasar modal, penyitaan fisik aset energi ini merupakan sinyal disrupsi suplai yang jauh lebih nyata dibandingkan sekadar retorika politik di media.

Serangan ini secara otomatis menaikkan biaya asuransi pengiriman laut dan berisiko memicu lonjakan inflasi energi global secara mendadak.

Balasan Udara Washington dan Benteng Pertahanan Teheran

Amerika Serikat segera merespons agresi tersebut dengan meluncurkan rentetan serangan udara ke wilayah Pulau Kesem dan Bandar Kamir Sirk.

Operasi militer Washington juga dilaporkan menyasar kota pelabuhan strategis Bandar Abbas serta pos pemeriksaan angkatan laut di Bandar Kragan.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa status gencatan senjata secara teknis masih berlaku di atas kertas.

Trump memberikan ultimatum keras bahwa Amerika Serikat siap menghancurkan infrastruktur Iran jika kesepakatan baru tidak segera ditandatangani.

Pihak militer Iran mengklaim sistem pertahanan udara mereka berhasil menghalau serangan drone di wilayah Teheran Barat, khususnya area Citgar.

Otoritas setempat menegaskan tidak ada satu pun proyektil musuh yang berhasil menembus zona pertahanan udara mereka.

Presiden Iran Masud Pezekian menyatakan bahwa bangsa Iran tidak mengharapkan apa pun dari Amerika Serikat dan akan terus menjaga kedaulatan nasional.

Situasi saling serang ini memaksa investor global untuk segera merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal kedua tahun ini.

Ketidakpastian antara ancaman militer Trump dan ketegaran politik Pezekian menciptakan volatilitas yang belum pernah terjadi sebelumnya pada indeks harga komoditas global.

Risiko pemutusan total jalur distribusi di Selat Hormuz kini menjadi variabel utama dalam perhitungan valuasi portofolio investasi lintas negara.

Investor diwajibkan memperketat manajemen risiko pada sektor energi dan logistik seiring memanasnya konfrontasi fisik di wilayah Teluk.

Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara

Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Memuat Grafik...

Tinggalkan Balasan