Geser Kebawah
PasarSaham

Industri Properti Lesu, KIJA Justru Tancap Gas di Kuartal I 2025

89
×

Industri Properti Lesu, KIJA Justru Tancap Gas di Kuartal I 2025

Sebarkan artikel ini
Industri Properti Lesu, KIJA Justru Tancap Gas di Kuartal I 2025
Kinerja emiten properti kawasan industri tertekan kuartal I 2025 akibat dampak perang tarif, namun Jababeka (KIJA) berhasil cetak pertumbuhan signifikan.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Ketegangan geopolitik dan kebijakan tarif saling balas Presiden AS Donald Trump mulai menunjukkan efek domino ke sektor riil Indonesia, khususnya properti kawasan industri.

Tiga emiten besar mencatatkan hasil beragam sepanjang kuartal pertama 2025, di mana hanya satu perusahaan yang sukses memanfaatkan momentum.

Sponsor
Iklan

PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) menjadi salah satu korban dari tekanan tersebut. Emiten ini melaporkan penurunan pendapatan menjadi Rp 1,06 triliun, turun 2,1% dari Rp 1,09 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya.

Sektor perhotelan menjadi titik lemah dalam laporan kinerja SSIA. Penutupan sementara Hotel Melia Bali sejak Oktober 2024 untuk renovasi menyebabkan segmen ini hanya menyumbang Rp 99,6 miliar hingga Maret 2025 merosot hingga 57,3% secara tahunan.

Baca Juga: Laba Jababeka (KIJA) Tembus Rp363,3 Miliar di 2024

Menurut Erlin Budiman, VP Investor Relations & Sustainability SSIA, langkah ini adalah bagian dari strategi jangka menengah. “Meski terjadi penurunan, renovasi ini akan meningkatkan nilai tambah hotel kami di masa depan,” ujarnya dalam siaran pers, Rabu (7/5).

Namun, dampak sementara itu tetap terasa pada neraca konsolidasi. SSIA mencatat rugi bersih sebesar Rp 21,7 miliar, naik dari kerugian Rp 14,9 miliar pada kuartal I 2024.

DMAS Stabil Tapi Terkikis

Nasib yang hampir serupa juga dialami oleh PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS). Emiten pengelola kawasan industri Deltamas ini mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp 508 miliar di kuartal I 2025, turun sekitar 7,5% dari Rp 549 miliar pada tahun sebelumnya.

Meski begitu, segmen industri tetap menjadi tumpuan utama DMAS, menyumbang Rp 475,9 miliar atau 93,7% dari total pendapatan.

Kontribusi sektor komersial dan hunian masing-masing sebesar Rp 15,5 miliar dan Rp 8,3 miliar, disusul pendapatan dari hotel serta rental.

Baca Juga: DMAS Pukul Rekor Laba Rp1,3 Triliun, Proyeksi Saham Tembus Rp200

Laba bersih DMAS turut terkikis, turun dari Rp 366,12 miliar menjadi Rp 355,45 miliar. Meskipun selisihnya tipis, hal ini menunjukkan tekanan nyata di tengah kondisi ekonomi global yang tidak bersahabat.

Fath Aliansyah Budiman dari Maybank Sekuritas menilai, kinerja DMAS sangat tergantung pada penjualan lahan industri.

“Ada penurunan sekitar 7,4% yoy dari sektor ini. Jika tren ini berlanjut, dampaknya bisa terasa ke distribusi dividen ke depan,” jelasnya.

KIJA Melawan Arus

Berbeda dari SSIA dan DMAS, PT Jababeka Tbk (KIJA) justru melesat di tengah ketidakpastian. Perusahaan ini mencetak pendapatan konsolidasi Rp 1,29 triliun di kuartal I 2025, naik tajam 87% dari Rp 690 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga: Pendapatan SSIA Turun Tipis, Segmen Konstruksi Tetap Jadi Andalan

Lompatan kinerja ini ikut mendorong laba bersih KIJA menjadi Rp 200,5 miliar, berbalik dari rugi bersih Rp 107,7 miliar di tahun sebelumnya.

Menurut Corporate Secretary Muljadi Suganda, pertumbuhan ini ditopang oleh kenaikan pendapatan dan perbaikan margin laba kotor.

Tak hanya menunjukkan hasil impresif, KIJA juga menyiapkan rencana ambisius ke depan. Target marketing sales 2025 ditetapkan di angka Rp 3,5 triliun, dengan kontribusi terbesar berasal dari kawasan industri di Cikarang senilai Rp 2,05 triliun.

Baca Juga: Masa Depan SSIA: Pusat Ekosistem EV dan Strategi Target Harga Saham

Sisanya berasal dari proyek properti di Kendal dan joint venture lainnya.

Tekanan dari Performa Manufaktur

Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyoroti bahwa sektor properti kawasan industri sangat berkaitan erat dengan performa sektor manufaktur.

Indeks PMI Manufaktur Indonesia yang terkontraksi ke 46,7 akibat kebijakan perang tarif disebut menjadi beban besar bagi emiten properti.

“Selama tensi tarif ini masih berlangsung, prospek kawasan industri akan tetap berat. Diperlukan solusi diplomatik agar indeks manufaktur bisa bangkit kembali,” ungkapnya, Kamis (8/5).

Nafan sendiri merekomendasikan pembelian akumulatif untuk saham KIJA dengan target harga Rp 208, menyusul kinerjanya yang positif.

Performa Saham Masih Lesu

Meski KIJA unggul dalam kinerja keuangan, pergerakan saham emiten kawasan industri belum menunjukkan sinyal pemulihan kuat.

Data RTI mencatat, saham DMAS naik 16,28% dalam sebulan terakhir namun hanya 0,67% secara year-to-date (YTD). SSIA meningkat 15,49% dalam satu bulan, namun terjerembab 39,03% YTD.

KIJA sendiri tumbuh 9,94% dalam sebulan terakhir, tapi masih minus 4,84% YTD. Lonjakan harga saham DMAS sebagian besar dipicu oleh euforia pembagian dividen, bukan fundamental yang menguat.

Indri, analis pasar yang diwawancarai, menilai bahwa saham-saham properti industrial masih kurang diminati di tengah dominasi saham big caps seperti perbankan besar.

“Investor cenderung wait and see, belum ada sentimen kuat untuk rebound,” katanya.

William Hartanto dari WH-Project menilai saham SSIA berada dalam tren melemah dengan support di Rp 775 dan resistance di Rp 865.

Ia pun menyarankan sikap konservatif terhadap saham ini, mengingat belum muncul sinyal pembalikan arah harga.

Ketidakpastian Global Bayangi Optimisme Lokal

Sentimen negatif global dan tekanan eksternal terus menjadi bayangan gelap bagi emiten properti kawasan industri.

Meskipun ada titik terang dari keberhasilan KIJA, pasar belum cukup yakin untuk memutar arah secara keseluruhan. Dalam iklim yang sarat risiko ini, investor dituntut lebih selektif dan strategis dalam menentukan posisi.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.