Geser Kebawah
HeadlineInternasional

Trump Klaim Rusia-Ukraina Segera Berunding, Zelensky Desak AS

74
×

Trump Klaim Rusia-Ukraina Segera Berunding, Zelensky Desak AS

Sebarkan artikel ini
Trump Klaim Rusia-Ukraina Segera Berunding, Zelensky Desak AS Tetap Terlibat
Presiden AS Donald Trump mengklaim Rusia-Ukraina akan mulai perundingan perdamaian usai telepon dengan Putin. Zelensky desak AS tak menarik diri.

Trump Klaim Perundingan Damai Rusia-Ukraina Segera Dimulai

WASHINGTON, BursaNusantara.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan Rusia dan Ukraina akan segera memulai perundingan menuju gencatan senjata, usai melakukan panggilan telepon dua jam dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Trump menggambarkan percakapan ini berjalan “sangat baik” namun menekankan syarat perdamaian harus dinegosiasikan langsung oleh kedua pihak.

Sponsor
Iklan

“Rusia dan Ukraina akan segera memulai negosiasi menuju gencatan senjata dan mengakhiri perang,” tulis Trump di Truth Social.

Ia mengaku telah menyampaikan kabar ini kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dalam panggilan terpisah yang melibatkan pemimpin dunia lainnya.

Baca Juga: Rupiah Turun di Tengah Negosiasi Perdamaian Rusia-Ukraina

Respons Putin dan Syarat Rusia

Putin menyatakan kesediaan bekerja sama dengan Ukraina untuk memorandum perdamaian, tetapi menolak tuntutan AS dan Eropa tentang gencatan senjata tanpa syarat 30 hari.

Kremlin belum merilis detail lebih lanjut mengenai kesepakatan yang dimaksud.

“Syarat-syarat perdamaian harus dinegosiasikan oleh kedua pihak yang memahami kompleksitas situasi,” tambah Trump.

Pernyataan ini mengindikasikan Moskow tidak akan menerima tekanan eksternal untuk gencatan senjata.

Baca Juga: Trump dan Putin Siap Bertemu, Bisakah Ini Akhiri Konflik Ukraina?




Peringatan Keras Zelensky

Zelensky menegaskan Ukraina hanya menerima “gencatan senjata penuh dan tanpa syarat”. Dalam pernyataan video, ia memperingatkan: “Jika Rusia tidak serius, sanksi lebih keras harus diterapkan.”

Presiden Ukraina itu juga mendesak AS dan Eropa tetap terlibat dalam proses perdamaian. “Penting bagi kami bahwa Amerika tidak menjauh dari negosiasi. Satu-satunya yang diuntungkan dari itu adalah Putin,” tegasnya.

Ketegangan di Balik Klaim Perdamaian

Trump mengklaim kemajuan positif, namun tidak ada indikasi kapan perundingan akan dimulai atau apakah Rusia bersedia membuat konsesi.

Sumber Gedung Putih menyebut Trump “sangat frustrasi” dengan lambatnya proses perdamaian.

Baca Juga: Zelensky Siap Berdamai dengan Putin, Akankah Perang Ukraina Berakhir?




Zelensky mengaku belum menerima detail memorandum dari Rusia. “Begitu kami mendapatkannya, kami akan merumuskan respons sesuai prinsip Ukraina,” ujarnya.

Ia menegaskan tidak ada keputusan tentang Ukraina yang boleh dibuat tanpa persetujuannya.

Posisi AS dalam Mediasi

Trump membantah AS akan menarik diri dari peran mediasi, tetapi mengaku memiliki “garis merah” terkait batas kesabarannya.

“Kami tidak akan meninggalkan meja perundingan, tapi kami juga tidak bisa menunggu selamanya,” katanya di Gedung Putih.




Pernyataan ini muncul setelah sepekan terakhir Trump berulang kali mengancam akan mengurangi keterlibatan AS akibat stagnasi negosiasi.

Para analis menyebut pernyataan Trump hari ini mungkin upaya mempertahankan citra sebagai peacemaker sebelum pemilu.

Reaksi Internasional dan Peran Mediator

Uni Eropa melalui pernyataan Presiden Komisi Ursula von der Leyen mendesak transparansi dalam proses perdamaian.

“Setiap kesepakatan harus menghormati kedaulatan Ukraina dan melibatkan komunitas internasional,” tegasnya.

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg menyambut baik inisiatif perdamaian tetapi memperingatkan: “Gencatan senjata tidak boleh digunakan Rusia untuk konsolidasi pasukan.”




Analis pertahanan menyebut posisi Rusia masih ambigu, dengan pasukannya terus menguasai wilayah-wilayah strategis di Donbas.

Pertentangan Pandangan tentang Proses Perdamaian

Zelensky dalam pidato malamnya menegaskan: “Kami tidak akan menerima perdamaian yang berarti menyerahkan wilayah kami.”

Ia mengungkapkan kecurigaan bahwa memorandum yang disebut Putin mungkin berisi klausul yang melegitimasi aneksasi Rusia.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyatakan: “Kami terbuka untuk dialog, tetapi Ukraina harus menerima realitas teritori baru.”




Pernyataan ini dianggap banyak pihak sebagai sinyal bahwa Moskow tidak akan mengembalikan wilayah yang dicaplok sejak 2014.

Dampak terhadap Pasar Keuangan Global

Pengumuman Trump sempat mendorong penguatan rubel Rusia sebesar 1,2% terhadap dolar AS. Namun, pasar segera kehilangan momentum setelah tidak ada konfirmasi resmi dari Kremlin.

“Harga minyak mentah Brent stabil di US$92 per barel karena ketidakpastian durasi konflik,” kata analis energi dari Goldman Sachs.

Para investor masih menunggu kejelasan apakah pembicaraan damai akan memengaruhi sanksi Barat terhadap sektor energi Rusia.

Prospek Perdamaian Menurut Pengamat

Mantan Duta Besar AS untuk NATO, Kurt Volker, menyatakan skeptis: “Tanpa mekanisme verifikasi internasional, perjanjian apapun dengan Rusia sulit diimplementasikan”




Ia mengingatkan pengalaman Minsk Agreement 2015 yang gagal menghentikan konflik.

Sementara itu, think tank Institute for the Study of War melaporkan peningkatan 15% aktivitas tempur di front selatan Ukraina dalam 72 jam terakhir.

“Ini menunjukkan Rusia mungkin ingin memperkuat posisi sebelum negosiasi,” tulis laporan mereka.