JAKARTA, BursaNusantara.com – Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) melaporkan bahwa penjualan industri ritel pada periode Ramadan hingga Lebaran 2025 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Ketua Umum APRINDO, Roy Nicholas Mandey, mengungkapkan penurunan diperkirakan mencapai 5 hingga 8 persen secara tahunan (year-on-year).
Penjualan FMCG Jauh dari Ekspektasi
Penurunan paling signifikan terjadi pada sektor barang konsumsi cepat saji atau Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) yang selama ini menjadi andalan peningkatan omzet saat Ramadan dan Lebaran.
Baca Juga: Kenaikan UMP 2025: Berkah bagi FMCG, Tantangan bagi Retailer
“Kalau normalnya, kontribusi sales tiap bulan itu 8-9%. Untuk Ramadan dan Lebaran ini baru menyentuh 11-12%, padahal kami harapkan bisa 15-20%,” ujar Solihin kepada media, Minggu (6/4).
Melemahnya permintaan terhadap produk FMCG menunjukkan adanya perubahan perilaku konsumen yang lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang selama periode hari raya.
Konsumen Lebih Selektif Belanja
Solihin menilai, penurunan ini erat kaitannya dengan situasi ekonomi nasional yang sedang tidak kondusif. Hal ini membuat masyarakat lebih selektif dan memprioritaskan kebutuhan pokok.
UNVR: Dividen Spesial dan Target Rp1.700, Tantangan 2025
“Masyarakat spending money-nya jadi lebih selektif. Kebanyakan hanya untuk kebutuhan primer,” jelasnya.
Meskipun begitu, dibanding bulan-bulan biasa, penjualan tetap menunjukkan peningkatan, meski skalanya tidak sebesar yang diharapkan para pelaku industri ritel.
Overstock dan Dampak ke Pasokan Berikutnya
Kondisi ini berdampak pada stok barang yang sebelumnya telah disiapkan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan menjelang Lebaran. Akibat permintaan yang lebih rendah dari proyeksi, banyak stok yang tidak terserap optimal oleh pasar.
Baca Juga: Laba Indika Energy (INDY) Anjlok 91,57% di 2024
“Stock yang kami persiapkan relevan dengan tren tahun-tahun sebelumnya. Namun karena permintaan lebih rendah, terjadi overstock. Ini akan berpengaruh ke penyesuaian pasokan pada periode selanjutnya,” tutup Solihin.
Fenomena overstock ini dikhawatirkan akan menekan efisiensi rantai pasok dan berdampak pada strategi pengadaan barang oleh pelaku ritel menjelang periode tinggi konsumsi di masa mendatang.
Baca Juga: Buka Bukaan Kredit BRI Bermasalah Ternyata Sebesar Ini











