Koordinasi Kolektif IEA Redam Guncangan Harga Energi Global
JAKARTA, BursaNusantara.com – Para menteri keuangan negara-negara G7 menjadwalkan pertemuan darurat pada Senin (9/3/2026) guna membahas stabilitas pasokan energi dunia.
Agenda utama diskusi tersebut berfokus pada kemungkinan pelepasan cadangan minyak darurat secara bersama demi menstabilkan harga pasar.
Langkah strategis ini diambil sebagai respons langsung terhadap dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh peperangan dengan Iran.
Baca Juga
Laporan The Financial Times menyebutkan bahwa inisiatif pelepasan cadangan ini akan dikoordinasikan langsung oleh Badan Energi Internasional (IEA).
Pertemuan melalui panggilan telepon tersebut dijadwalkan berlangsung pada pukul 08.30 pagi waktu New York.
Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, dipastikan hadir untuk memberikan analisis dampak krisis energi yang sedang berkembang.
Tiga negara anggota G7, termasuk Amerika Serikat, telah menyatakan dukungan resmi terhadap gagasan mobilisasi cadangan kolektif tersebut.
Sistem darurat ini melibatkan 32 anggota IEA yang memiliki komitmen dalam mengantisipasi lonjakan harga minyak bumi di tingkat global.
Mobilisasi 400 Juta Barel Cadangan Minyak Darurat
Beberapa pejabat Amerika Serikat mendorong agar volume pelepasan kolektif berada pada kisaran 300 juta hingga 400 juta barel.
Angka tersebut mencakup sekitar 25 persen hingga 30 persen dari total 1,2 miliar barel cadangan minyak darurat yang tersedia saat ini.
Sistem darurat kolektif ini memang dirancang khusus sebagai instrumen intervensi pasar saat terjadi krisis pasokan yang tidak terduga.
Menurut sejumlah sumber, langkah ini menjadi sangat krusial untuk mencegah kelangkaan bahan bakar di negara-negara industri besar.
Dukungan dari mayoritas anggota G7 diharapkan dapat memberikan kepastian bagi pelaku pasar modal dan komoditas di seluruh dunia.
Koordinasi internasional ini mencerminkan keseriusan negara-negara maju dalam mengamankan rantai pasok energi di tengah situasi perang.
Pengaktifan cadangan strategis ini diharapkan mampu meredam volatilitas harga minyak mentah yang meroket sejak konflik pecah.
Keputusan akhir mengenai teknis distribusi cadangan ini akan menjadi poin penentu bagi pergerakan inflasi global dalam beberapa pekan mendatang.
Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.











